Perekonomian Tanjungpinang Sebagian Besar Digerakkan Warga Tionghoa

Pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau menyatakan, perekonomian di Ibu Kota Kepulauan Riau mayoritas digerakkan warga etnis Tionghoa.
Perekonomian Tanjungpinang Sebagian Besar Digerakkan Warga Tionghoa Newswire | 16 Februari 2018 16:37 WIB
Perekonomian Tanjungpinang Sebagian Besar Digerakkan Warga Tionghoa
Warga Tionghoa naik perahu motor usai sembahyang laut dalam festival Peh Cun, di Tanjungpinang, Kepri, Minggu (21/6/2015). - Antara/Yuli Seperi

Kabar24.com, TANJUNGPINANG - Pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau menyatakan, perekonomian di Ibu Kota Kepulauan Riau mayoritas digerakkan warga etnis Tionghoa.

"Warga etnis Tionghoa sejak dahulu sampai sekarang terkenal lihai berdagang. Banyak yang sukses," kata Sekda Tanjungpinang Riono di Tanjungpinang, Jumat (16/2/2018).

Tanjungpinang pada hari pertama perayaan Imlek tampak lengang, karena nyaris tidak ada aktivitas perdagangan. Biasanya, aktivitas perdagangan dimulai pada hari ketiga atau kelima Imlek.

"Pada hari pertama dan kedua Imlek ribuan toko dan kios di Tanjungpinang tutup. Hal itu disebabkan para pedagang merayakan Imlek. Hampir semua swalayan pun tutup karena pemiliknya merayakan Imlek," ucapnya.

Riono mengemukakan, warga etnis Tionghoa di Tanjungpinang tidak hanya menguasai perekonomian berskala kecil dan sedang, melainkan juga usaha berskala besar, seperti pembuatan kapal, perumahan, restoran dan perhotelan.

"Banyak warga etnis Tionghoa di Tanjungpinang menjadi pengusaha sukses. Mereka menggeluti usahanya secara serius," ucapnya.

Menurut dia, warga etnis Tionghoa sejak zaman Kerajaan Riau-Lingga terkenal lihai menggeluti sektor perdagangan. Mereka juga membangun sejumlah kawasan perdagangan yang diberikan raja-raja terdahulu, seperti Senggarang.

"Di Senggarang pula raja mengijinkan warga etnis Tionghoa untuk membangun tempat ibadah, yang dikenal dengan nama Kelenteng Akar," tutur Riono.

Kehadiran pedagang dari kalangan etnis Tionghoa sejak dahulu membantu memajukan perekonomian Kepri, khususnya Tanjungpinang. Mereka pun semakin lama hidup membaur dengan masyarakat dari suku lainnya.

"Kalau dahulu sampai orde baru mereka dikenal sebagai suku yang eksklusif karena kurang berbaur. Sejak reformasi kondisi itu sudah berubah, kehidupan masyarakat berbaur, tidak dipengaruhi suku," katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imlek

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top