Pertama Kalinya, Kaisar Akihito Rayakan Ulang Tahun Besar-besaran

Puluhan ribu warga Jepang tumpah ruah di Istana Kekaisaran Tokyo, guna merayakan ulang tahun Kaisar Jepang Akihito. Perayaan ini menjadi yang pertama kali dilakukan secara besar-besaran setelah Akihito resmi menyatakan undur diri dari tahtanya.
Yustinus Andri DP | 23 Desember 2017 15:28 WIB
Kaisar Jepang Akihito dan Putri Michiko - guardian

Kabar24com, JAKARTA - Puluhan ribu warga Jepang tumpah ruah di Istana Kekaisaran Tokyo, guna merayakan ulang tahun Kaisar Jepang Akihito. Perayaan ini menjadi yang pertama kali dilakukan setelah Akihito resmi menyatakan undur diri dari tahtanya.

Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang mengatakan, setidaknya terdapat 49.500 ribu orang berkerumun di komplek kerajaan. Mereka memberikan penghormatan kepada kaisarnya yang berulang tahun ke-84 pada Sabtu (23/12/2017).

Adapun, hari ulang tahun kaisar dirayakan secara nasional dengan menetapkannya sebagai hari libur nasional. Selain itu komplek kerajaan yang selama ini tertutup untuk umum, pada hari tersebut dibuka.

Reuters melaporkan, warga yang hadir melambaikan bendera kecil Jepang dan mengangkat ponsel pintarnya sembari menyalakan lampu flash sebagai bentuk sambutan sekaligus penghormatan ke Kaisar Akihito. Dalam prosesi ini, sang kaisar berdiri di balkon kerajaan dengan posisi diapit oleh istrinya dan anggota keluarga kekaisaran lainnya.

Badan Rumah Tangga Kekaisaran menyebut kerumunan massa ini adalah yang terbesar dan terbanyak untuk pertama kalinya sejak Akihito menjabat selama 29 tahun. Adapun, era kepemimpinan Akihito dijuluki dengan era “Heisei", yang berarti "mencapai kedamaian" dalam bahasa Jepang.

"Pada hari ini saat kita menghadapi kedinginan, pikiran saya pergi ke orang-orang yang menderita topan dan hujan lebat, serta korban gempa bumi di kawasan timur Jepang yang terus menjalani kehidupan yang sulit," kata Akihito , mengacu pada gempa dan tsunami pada 2011 yang menewaskan banyak orang dan membuat puluhan ribu warga mengungsi di pesisir timur negara itu.

Bersama dengan Permaisuri Michiko, Akihito telah menghabiskan sebagian besar masa pemerintahannya untuk menangani warisan Perang Dunia Kedua. Seperti diketahui, Akihito merupakan Kaisar Jepang yang tidak memiliki dan tidak menginginkan kekuatan politik di Jepang. Selama ini, di masa kepemimpinannya, Kekaisaran Jepang menjelma sebagai simbol perdamaian negara.

Seperti diketahui, pada awal bulan ini, Dewan Kekaisaran Jepang yang berisi 10 anggota sepakat bahwa Akihito akan mengundurkan diri pada 30 April 2019. Selanjutnya, tinggak kepemimpinan kerajaan akan diserahkan kepada putra tertuanya, Putra Mahkota Naruhito.

Dalam komentar yang disampaikan ke media, Akihito mengatakan bahwa dia akan menggunakan sisa masa pemerintahannya secara maksimal untuk menjalankan tugasnya dan bersiap untuk melakukan suksesi.

Adapun, salah satu alasan Akihito mengundurkan diri adalah karena kondisi kesehatannya. Dia telah menjalani operasi jantung dan pengobatan untuk kanker prostat. Pada tahun lalu dia juga mengungkapkan kekhawatirannya tidak dapat memimpin kerajaan dengan maksimal karena kendala usia an kesehatannya.

Sepanjang masa pemerintahannya, Akihito secara konsisten telah mendesak orang Jepang untuk tidak melupakan masa perang dan menggalakkan proses rekonsiliasi dengan negara lain seperti Korea Selatan dan China. Namun, upaya kampanye rekonsiliasinya kontras dengan indikasi yang dimiliki oleh Perdana Menteri Shinzo Abe. Pasalnya, Abe terus menerus mengelak untuk melakukan permintaan maaf secara maksimal ke negara yang pernah mengalami agresi militer Jepang di masa lalu.

 

Sumber : Reuters

Tag : jepang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top