Blue Frontiers Bangun Kota Terapung di Tahiti, Investasi US$60 Juta

Blue Frontiers, sebuah perusahaan berbasis di Singapura, telah menandatangani sebuah nota kesepahaman dengan pemerintah Polinesia Prancis untuk membangun sebuah desa terapung dengan nilai US$60 juta di sisi selatan pulau utama Tahiti, yang akan selesai 2020.
Martin Sihombing | 26 November 2017 12:00 WIB
Maket kota terapung di Tahiti - Courtesy Blue Frontiers

Kota-kota di laut, mengapung di atas ombak, telah lama menjadi mimpi yang disenangi bagi para arsitek yang berpikiran maju dan penulis fiksi ilmiah. Kini komunitas terapung pertama di dunia ini mulai terbentuk di perairan laguna Tahiti.

Blue Frontiers, sebuah perusahaan berbasis di Singapura, telah menandatangani sebuah nota kesepahaman dengan pemerintah Polinesia Prancis untuk membangun sebuah desa terapung dengan nilai US$60 juta di sisi selatan pulau utama Tahiti, yang akan selesai 2020.

Desa ini akan berfungsi sebagai tempat pameran dan tempat uji coba untuk teknologi yang dibutuhkan untuk menciptakan komunitas mengambang yang jauh lebih besar, kata Joe Quirk, presiden Institut Seasteading, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di San Francisco yang merupakan kekuatan pendorong di belakang Blue Frontiers.

Lembaga ini berharap suatu hari bisa membangun kota mengambang skala penuh yang bisa berkembang di luar perairan teritorial negara-negara yang ada.

Desa terapung Tahiti akan berada tepat di dalam terumbu karang pelindung pulau itu, dengan kedalaman sekitar 100 kaki sekitar 1.000 meter dari pantai. Rencana meminta 200 sampai 300 orang untuk tinggal dan bekerja di sana pada selusin platform mengambang, masing-masing seukuran baseball diamond. Platform akan dihubungkan oleh jalan setapak ke combined area seluas 7.500 kaki persegi.

Quirk mengatakan dia mengharapkan desa terapung berkembang melalui kombinasi ekowisata dan industri perairan baru seperti budidaya rumput laut dan tenaga ombak.

"Kita akan memiliki bungalow, kita akan memiliki apartemen, kita akan memiliki lembaga penelitian, kita akan memiliki restoran bawah laut," kata Quirk.

"Ini akan menjadi objek wisata tersendiri, dan sebuah etalase untuk masyarakat yang berkelanjutan. Kami merencanakan platform ini untuk meningkatkan kepadatan kehidupan laut saat hewan dan tumbuhan menempel padanya. Anda akan turun ke ruang bawah tanah dan melihat melalui dinding kaca dan melihat kehidupan laut ... untuk benar-benar mengenalkan orang kepada bagaimana masyarakat terapung dapat merestorasi lingkungan. "

Sebuah komunitas yang mengapung di samudra, yang kadang dikenal sebagai "seastead," menarik banyak generasi pemikir dan pemimpi. Di antara gagasan yang menonjol adalah Triton City, yang dirancang pada 1960 oleh penemu Amerika Buckminster Fuller: sebuah kota berpenduduk 5.000 orang yang mengambang di Teluk Tokyo, Jepang, sebagai perpanjangan yang luas untuk satu kota terpadat di dunia.

Tapi sementara banyak gagasan telah melayang, kesepakatan antara Blue Frontiers dan Polinesia Prancis mungkin merupakan proyek pertama yang telah melewati tahap spekulatif. Perusahaan berencana untuk meningkatkan modal awal sebesar US$60 juta dalam sebuah “initial coin offering” mata uang virtual, yang diluncurkan pada bulan Februari.

Komunitas Mengambang

Untuk Lembaga Seasteading, yang didirikan pada 2008 dengan dana dari investor Silicon Valley Peter Thiel, konsep ini terkait dengan gagasan utopis komunitas mengambang yang ada di luar perbatasan internasional, perairan teritorial dan yurisdiksi hukum saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perumahan

Sumber : nbcnews.com
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top