IAEA Resmikan Laboratorium Pengendalian Hama Serangga

Diplomasi nuklir yang membumi dan langsung membawa manfaat bagi masyarakat dunia dinilai sebagai tantangan nyata di masa depan. Di sisi lain, pemanfaatan nuklir untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan merupakan hal yang nyata.
Andhina Wulandari | 27 September 2017 18:05 WIB
Peresmian Insect Pest Control Laboratory IAEA - Dok. KBRI Wina

Kabar24.com, WINA -  Diplomasi nuklir yang membumi dan langsung membawa manfaat bagi masyarakat dunia dinilai sebagai tantangan nyata di masa depan. Di sisi lain, pemanfaatan nuklir untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan merupakan hal yang nyata.

Duta Besar Indonesia untuk Austria merangkap sebagai Wakil Tetap RI Pada PBB dan Organisasi Internasional lainnya di Wina, Darmansjah Djumala hadir memberikan kata sambutan.

Peresmian laboratorium IAEA Insect Pest Control Laboratory (IPCL) dilakukan oleh Dirjen IAEA Yukiya Amano di Seibersdorf, Wina, Senin (25/9/2017).

“Pemanfaatan nuklir untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan adalah nyata. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana mengejawantahkan diplomasi nuklir yang membumi sehingga langsung membawa manfaat bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan outreach dan penerapan berbagai program aplikasi nuklir seperti yang dilakukan di Laboratorium Seibersdorf,” ujar Djumala yang baru saja diangkat sebagai Ketua Dewan Gubernur (Board of Governors) IAEA periode 2017-2018, seperti dilansir siaran pers KBRI Wina, Rabu (27/9/2017).

Fasilitas IPCL tersebut rencananya akan mulai digunakan pada kuartal pertama tahun 2018 untuk membantu pengembangan kapasitas (capacity building) negara-negara anggota dalam hal penggunaan teknik serangga mandul (sterile insect technique) untuk pengendalian hama serangga yang dapat merusak hasil pangan, ternak dan kesehatan manusia.

IAEA telah bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dalam 50 tahun terakhir melalui Divisi Joint FAO/IAEA dalam mengembangkan teknik serangga mandul.

Dirjen IAEA menyampaikan pemanfaatan teknik serangga mandul terbukti berhasil dalam pengendalian hama lalat buah di Republik Dominika yang mengancam sektor pertanian dan ekspor pangan ke Amerika. Begitu pula dengan pengendalian nyamuk tsetse di Senegal yang menyebabkan penyakit pada ternak dan manusia.

Asisten Dirjen FAO Ren Wang yang hadir pada peresmian tersebut juga menyampaikan keyakinannya bahwa fasilitas IPCL akan meningkatkan kapasitas yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan negara-negara anggota dan pencapaian Sustainable Development Goals.

Pembangunan IPCL merupakan bagian dari proyek ReNuAL (Renovation of the Nuclear Applications Laboratories) yang merupakan upaya bersama negara-negara anggota dan Sekretariat IAEA serta donor termasuk Pemerintah Austria dalam 3 tahun terakhir.

Indonesia turut memberikan bantuan dan sumbangan sukarela untuk proyek ReNuAL. Itu merupakan bentuk komitmen Pemerintah Indonesia terhadap pentingnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai bagi terciptanya kehidupan yang lebih baik.

Tag : nuklir, IAEA
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top