BRIC Kembali Dilirik Investor Global

Para investor global menunjukkan tanda-tanda terus mengarahkan investasinya kembali ke kelompok negara BRIC yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China.
Yustinus Andri DP | 19 Juni 2017 15:45 WIB
ilustrasi - REUTERS/Thomas Mukoya

Bisnis.com, JAKARTA— Para investor global menunjukkan tanda-tanda terus mengarahkan investasinya kembali ke kelompok negara BRIC yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China.

Hal itu tampak dari terus naiknya arus modal masuk setiap bulannya dan meroketnya harga saham ke level tertinginya selama dua tahun di negara BRICs tersebut. Para investor disinyalir meyakini bahwa pemulihan ekonomi global akan  mendorong naiknya kembali ekspor komoditas di negara-negara tersebut.

Selain itu, kuatnya konsumsi kelas menengah di negara-negara tersebut, bakal menopang pendapatan fiskal masing-masing negara.

Para investor juga menyambut positif perkembangan terbaru yang terjadi di keempat negara tersebut. Seperti diketahui, India saat ini terus berupaya melakukan deregulasi aturan bisnis, Brasil berhasil menunjukkan rebound pada perekoomiannya.

Adapun, Rusia kini sedang dalam proses menikmati keuntungan dari naiknya kembali harga minyak dunia. Sementara itu China, meskipun masih berkutat pada ancaman pelambatan ekonomi, nilai tukar yuan terbukti terus  menunjukkan penguatan.

Fakta-fakta tersebut diprediksi bakal menaikkan imbal hasil investasi dan meningkatnya prospek masing-masing ekuitas di negara-negara tersebut.  

Sebelumnya, sepanjang 2012-2016 prospek ekonomi BRIC dilaporkan terus menurun. Hal itu tak lepas dari kondisi negatif  yang melanda masing-masing negara, di mana Brasil mengalami resesi dan  pertumbuhan ekonomi China secara drastis melambat setelah sempat melaju kencang. Sementarai itu Rusia harus terpukul oleh anjloknya harga minyak dunia dan India mengalami pembengkakan defisi transaksi berjalan.

“Fundamental ekonomi kawasan itu terus menguat, sehingga menawarkan valuasi aset yang emnarik dan imbal hasil yang tinggi. Hal itulah yang membuat negara berkembang, terutama BRICs menarik bagi investor,” kata Jens Nystedt, manajer keuangan New York Morgan Stanley Investment Management, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (19/6/2017).

Institute of International Finance dan EPFR Global melaporkan, arus modal masuk non-residen ke negara-negara BRIC tercatat naik menjadi US$166,5 miliar bulan lalu.

Adapun, data Bloomberg menunjukkan, bulan lalu arus modal masuk ke ekuitas di China mencapai tingkat terbesarnya dalam dua tahun. Sementara itu, pada periode yang sama para investor terus menumpuk kepemilikannya atas obligasi India pada tingkat tertingginya selama  tiga tahun terakhir.

Mark Mobius, Kepala Eksekutif Templeton Emerging Markets Group, mengaku mengharapkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi di Brasil, China, India dan Rusia.

Baginya aset Brasil akan menguntungkan karena ekonomi terbesar Amerika Latin itu mengalami rebound setelah sempat mengalami kontraksi selama dua tahun.

“Sementara itu, investasi di China akan meningkat  karena cadangan devisanya telah pulih dari level terendahnya selama enam tahun terakhir pada Januari 2017,” kata Steve Hooker, manajer keuangan di Newfleet Asset Management.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bric

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top