Jokowi Perintahkan Satgas Tinombala Kejar 7 Anggota Mujahidin Indonesia Timur

Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Polisi Rudy Sufahriadi mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan kepada satuan tugas (Satgas) Tinombala untuk fokus mengejar tujuh anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso.
Newswire | 16 Mei 2017 17:50 WIB
Prajurit melakukan penjagaan saat Operasi Tinombala 2016 di Posko Operasi Tinombala 2016 Sektor II Tokorondo, Poso, Sulawesi tengah, Selasa (16/8/2016). - Antara

Kabar24.com, PALU -- Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Polisi Rudy Sufahriadi mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan kepada satuan tugas (Satgas) Tinombala untuk fokus mengejar tujuh anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso.

"Saat pertemuan dengan Presiden tadi, beliau memberikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas Tinombala, dan berpesan untuk fokus mencari tujuh orang yang tersisa," kata Kapolda di Palu, Selasa (16/5/2017).

Dalam pertemuan tersebut kata Kapolda, Presiden menanyakan bagaimana pasukan Satgas Tinombala berhasil menemukan dan menembak dua orang dari sembilan DPO tersebut.

Dijelaskan, bahwa mereka ditemukan di tengah hutan di wilayah Gunung Biru.

"Kalau perjalanan dari Desa Tamanjeka sekitar empat hari untuk masyarakat umum, karena medannya yang cukup berat," kata Kapolda.

Dua orang DPO dinyatakan tewas dalam baku tembak di daerah simpang angin wilayah Gunung Biru, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Selasa (15/5/2017) sekitar pukul 12.05 WITA.

Mereka adalah Askar alias Jaid alias Pak Guru asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Firdaus alias Daus alias Barok alias Rangga asal Bima NTB.

Sementara, tujuh orang DPO yang tersisa menjadi target perburuan yakni Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon asal Poso. Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar asal Poso. Qatar alias Farel asal Bima NTB. Nae alias Galuh asal Bima NTB. Basir alias Romzi asal Bima NTB. Abu Alim dan Kholid asal Bima NTB.

Keberhasilan operasi itu merupakan hasil kerja sama antara personel gabungan TNI dan Polri, yang setiap saat melakukan evaluasi baik di Palu, Poso maupun Manado.

Hasil evaluasi kata dia, yang juga dilakukan berdasarkan keterangan tersangka yang ditangkap hidup sebelumnya, bahwa dalam jarak dua kilometer, mereka sudah bisa mendengar dan merasakan pergerakan aparat keamanan.

"Jadi polanya kami ubah dengan sistem acak, akhirnya dua orang kembali tertembak," ujar Rudy.

Sumber : Antara

Tag : teroris poso
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top