Renungan Paskah: Dari Jalan Salib hingga Teologi Politik

Mari kita mulai dengan teodicea, salah satu pokok permenungan tentang Tuhan. Namun, lebih bermakna gugatan atas keadilan Tuhan.
Abraham Runga
Abraham Runga - Bisnis.com 14 April 2017  |  22:16 WIB
Renungan Paskah: Dari Jalan Salib hingga Teologi Politik
Abraham Runga Mali - Istimewa

Mari kita mulai dengan teodicea, salah satu pokok permenungan tentang Tuhan. Namun, lebih bermakna gugatan atas keadilan Tuhan. Tema gugatannya adalah penderitaan dan kejahatan yang menimpa manusia.

Kalau Tuhan ada, mengapa kejahatan dan penderitaan masih merajalela? Yang memulai gugatan ini adalah Epikuros, filsuf Yunani yang hidup 3 abad sebelum masehi. Dia tidak percaya pada campur tangan dan ‘penyelenggaraan ilahi’ atas manusia.

David Hume merumuskan permenungan Epikuros sebagai 'trilema' yang lumayan rumit. Trilema karena tersusun dalam tiga pilihan yang sulit.

Apakah Tuhan benar-benar ingin mencegah kejahatan di atas dunia? Kalau Tuhan ingin, tapi ternyata tidak mampu, maka Dia adalah Tuhan yang lemah dan tak berdaya.

Kalau Tuhan mampu, tapi dalam kenyataan Dia tidak ingin melakukan, maka Dia adalah Tuhan yang jahat. Atau andaikan Dia tidak mau dan tidak mampu, maka selain lemah, Dia juga jahat. Kalau demikian, lalu mengapa, kita masih menyebutnya Tuhan?

Trilema Epikuros mungkin tampak sederhana, tapi ini menjadi salah satu fondasi ateisme. Apalagi, pada saat yang bersamaan orang beriman---dengan memakai kitab suci dan teologi'--sampai saat ini belum bisa memberikan jawaban yang lumayan memuaskan.

Kalau pada hari-hari ini orang Kristen merayakan Paskah, yaitu peringatan kematian dan kebangkitan Yesus, maka menurut saya, ini dalah bagian dari ‘cara menjawab’ persoalan eksistensial yang diajukan Epikuros dan para pengikutnya.

Cara berpikirnya seperti berikut. Yesus adalah pewahyuan Allah yang definitif. Allah yang maha cinta itu terlibat dalam pengalaman hidup manusia. Dalam salib dan kematian Yesus, cinta Allah ambil bagian dalam penderitaan dan kejahatan manusia.

Salib tidak bisa tidak harus dipikul untuk mengatasi penderitaan. Itu satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan.

Yesus mengajarkan, penderitaan tidak bisa dihindari, tapi harus diterima dengan kerendahan hati, melalui pengosongan diri untuk melawan egosentrisme manusia. Hanya dengan itu, kebahagiaan didapatkan.

Dalam perspektif trilema Epikuros, Salib Yesus, merupakan bukti bahwa Allah berkeinginan membebaskan manusia dari kejahatan dan penderitaan. Namun, keyakinan kristen tidak berhenti pada salib. Setelah itu, masih ada kebangkitan.

Iman akan kebangkitan Yesus merupakan ungkapan bahwa Tuhan memiliki kemampuan untuk mengatasi kejahatan dan penderitaan. Termasuk penderitaan maut yang paling menakutkan manusia. Kebangkitan Yesus merupakan bukti kemenangan daya cinta ilahi atas maut.

Tentu saja, ‘jalan salib’ menimbulkan banyak pertanyaan? Mengapa Tuhan harus bersusah-susah merendahkan diri dan disalibkan untuk mengatasi kejahatan dan penderitaan? Apa tidak ada cara lain yang lebih memperlihatkan kedigdayaan ilahi sebagai hakikat Tuhan?

Iman kristen cuma meringkas jawaban atas pertanyaan itu dengan keyakinan akan Cinta Tuhan yang tanpa batas. Cinta adalah hakikat Tuhan. Salib menjadi paradoks. Tanda peghinaan itu justru dipakai untuk memperlihatkan kedigdayaan cinta itu.

Teologi Politik

Terlepas dari berbagai pertanyan, justru dari jalan salib itulah menyeruak tanggung jawab manusia untuk terlibat dalam perbaikan dunia. Dari ‘jalan salib’, orang-orang seperti J.B. Metz (The Faith in History and Society, 1980) dan Jurgen Moltmann (The Crucified God, 1973) mencetuskan paham Teologi Politik mereka.

Metz memulai dengan istilah kenangan pada penderitaan (memoria pasionis) dan kenangan pada kematian (memoria mortis). Kenangan itu melahirkan rasa syukur atas solidaritas Tuhan atas penderitaan manusia.

Kenangan yang sama juga membangkitkan spirit dan tanggung jawab untuk terlibat bersama karya dan solidaritas ilahi untuk mengatasi kejahatan dan penderitaan di atas dunia.

Teologi Politik tidak tertarik pada pembahasan Tuhan secara utopis dengan menunjukkan ketidakterlibatan sebagai kebodohan politik. Teologi Politik menjadi kritik korektif terhadap teologi yang memberikan tekenan berkelebihan pada kesalehan personal dan kenyamanan privat. Teologi Politik berkepentingan untuk mengekpresikan iman dalam ruang publik.

Namun, juga tidak disederhanakan Teologi Politik hanya sekadar membawa simbol-simbol agama dalam ranah publik. Lebih dari itu, Teologi Politik menganjurkan sebuah solidaritas pada penderitaan sosial.

Moltman memperkenalkan istilah vicous circle of death, lingkaran setan 'kematian' yang mesti menjadi medan solidaritas itu. Lingkaran itu adalah kemiskinan, dominasi kekuasaan, alienasi rasial dan politik, polusi industri bagi lingkungan, dan hidup yang diliputi perasan tak berarti dan tanpa tujuan.

Lingkaran setan kematian itu menjadi tantangan keputusan moral untuk terlibat sebagaimana Tuhan sendiri sudah memulainya. Tanpa terlibat dalam perbaikan dunia, kenangan pada jalan salib Yesus menjadi sia-sia. Bahkan, sebaliknya, bisa lebih buruk lagi, kita menjadi orang yang suka menaruh salib pada pundak orang lain dan kemudian menggantung mereka di atas tiang penghinaan itu.

Sekali lagi, keterlibatan itu mesti dibaluti keyakinan akan harapan eskatologis bahwa kesaktian alam maut dan kejahatan dunia tak mampu mengalahkan kekuatan cinta Tuhan. Dengan kata lain, kalau kita mau berjuang, pasti dunia dan peradaban ini akan menjadi lebih baik, tentu saja sembari kita menantikan ‘langit dan bumi baru’ (baca: surga) yang dijanjikan Tuhan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
paskah, paskah 2013

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup