HARI TOLERANSI SEDUNIA: Rohingya dan Trump Jadi Isu Utama

Para penggiat perfilman dan toleransi baru-baru ini berkumpul di Bali dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia.
Puput Ady Sukarno | 06 Desember 2016 00:18 WIB
Anak-anak Muslim Rohingya di desa U Shey Kya, pinggiran Maungdaw, negara bagian Rakhine, Myanmar (27/10/2016). - Reuters/Soe Zeya Tun

Bisnis.com, JAKARTA - Para penggiat perfilman dan toleransi baru-baru ini berkumpul di Bali dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia.

Rangkaian perayaan yang akan ditutup dengan pemutaran film di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta pada 13 Desember mendatang itu menyoroti Peristiwa Rohingya dan Donald Trump.

Natasha Dematra, Duta Toleransi, dalam pidato kebudayaannya, tentang Rohingya, menilai kejadian yang menimpa kaum Rohingya merupakan salah satu kejadian intoleran terbesar yang terjadi di era ini

Peristiwa pembunuhan kaum Muslim oleh para biksu garis keras tersebut merupakan sebuah tindakan yang memperburuk tragedi ini.

"Salah satu cara yang dapat menyelesaikan tragedi ini adalah persatuan sebuah bangsa itu sendiri," ujarnya, seperti siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (5/12/2016) malam.

Natasha menyerukan kepada PBB dan para pemimpin dunia yang mempunyai pengaruh untuk menyelesaikan tragedi ini.

"Toleransi adalah cara untuk mencapai perdamaian di dunia," ujarnya.

Kaum Rohingya sendiri merupakan imigran asal Bangladesh yang menetap di Myanmar. Hingga 2013, populasi mereka telah mencapai 1,3  juta orang.

Hingga kini, pembataian pada kaum Rohingya terus terjadi atas berbagai alasan, yang salah satunya karena mereka beragama Islam. Dalai Lama sendiri mengecam tindakan ini dan mengatakan bahwa jika Buddha masih ada, ia akan melindungi saudara-saudara Muslim.

Damien Dematra, Founder dan Director Festival juga menyampaikan bahwa toleransi sedang dalam ancaman menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Menurutnya janji-janji kampanye Trump yang akan melarang umat muslim masuk Amerika dan akan menutup masjid-masjid di AS, merupakan sebuah ancaman bagi perdamaian dunia.

“Dengan perayaan ini diharapkan para pemimpin dunia semakin menyadari pentingnya toleransi; karena tanpa toleransi dunia ini akan hancur,” ucap pria berambut panjang ini.

Hari Toleransi Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1996, dengan harapan untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa.

Tag : rohingya, Donald Trump
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top