Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yenny Wahid Ajak Masyarakat Desa Sebarkan Pesan Perdamaian

Putri mendiang Presiden keempat Abdulrahman Wahid, Yenny Wahid mengajak masyarakat desa untuk menyebarluaskan pesan perdamaian internasional karena kehidupan masyarakat desa yang guyub rukun, tentram, dan penuh toleransi, dapat menjadi inspirasi untuk menggaungkan pesan perdamaian ke seluruh dunia
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 08 Oktober 2016  |  12:41 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (ketiga kanan), Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri (kedua kanan), istri Presiden Keempat Abddurahman Wahid Sinta Nuriah (kanan) dan Menteri Agama Lukman Hakim (kiri) berbincang dengan Yenny Wahid (ketiga kiri) ketika pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8). - Antara
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (ketiga kanan), Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri (kedua kanan), istri Presiden Keempat Abddurahman Wahid Sinta Nuriah (kanan) dan Menteri Agama Lukman Hakim (kiri) berbincang dengan Yenny Wahid (ketiga kiri) ketika pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8). - Antara

Kabar24.com, JAKARTA – Putri mendiang Presiden keempat Abdulrahman Wahid, Yenny Wahid mengajak masyarakat desa untuk menyebarluaskan pesan perdamaian internasional, karena kehidupan masyarakat desa yang guyub rukun, tentram, dan penuh toleransi, dapat menjadi inspirasi untuk menggaungkan pesan perdamaian ke seluruh dunia.

“Masyarakat pedesaan adalah contoh, bagaimana semestinya kehidupan yang damai itu diciptakan dan dikelola secara bersama,” kata Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation, dalam rilis saat menghadiri Festival Lima Gunung, di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (8/10/2016).

Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, Festival Lima Gunung kali ini diselenggarakan oleh Komunitas Lima Gunung bekerja sama dengan Wahid Foundation. Festival sekaligus digelar untuk memperingati Hari Perdamaian International ( International Day of Peace) pada 21 September.

Yenny mengatakan, dunia saat ini sedang penuh dengan konflik. Perang terjadi di mana-mana: Suriah, Yaman, dan negara-negara lain. Salah satu efek terbesar dari konflik tersebut adalah banyaknya pengungsi. Mereka mengalami keterbatasan akses, kesehatan, pangan dan lain-lain.

“Mari, lewat festival ini, kita serukan untuk sehari saja hidup tanpa konflik, tanpa ledakan peluru. Sehari saja, agar mobil misi kemanusiaan bisa lewat menjangkau pengungsi,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan, misi perdamaian tidak hanya bisa dilakukan di kota-kota besar dan gedung elit. Pesan perdamaian yang hakiki justru ada pada kalangan masyarakat sipil dan komunitas-komunitas.

Kegiatan yang melibatkan perempuan ini, kata Yenny, diharapkan bisa menjadi kekuatan baru untuk menyemangati gagasan-gagasan perdamaian yang saat ini masih kurang.

“Kami ingin, pesan perdamaian tidak hanya bergaung di kota besar. Tidak hanya bergaung di gedung elit dan di hotel megah, tapi terutama di komunitas akar rumput. Kami menebarkan perdamaian sampai ke seluruh pelosok penjuru negeri, terutama ke kampung-kampung dan desa-desa,” ujar Yenny.

Sementara itu, Presiden Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut menjelaskan, tema "Centhini Gunung" diambil dari kisah yang tersurat dalam sebuah karya sastra terbesar dalam kasusastraan Jawa Baru bernama Serat Centhini. Karya ini menghimpun berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa dalam bentuk tembang (lagu).

“Dalam pertunjukan ini, ada beberapa penari perempuan yang berlaku sebagai Centhini. Mereka menari mewakili masing-masing kecerdasan dan kekuatan perempuan,” kata Sutanto.

Tidak kurang dari 350 seniman terlibat dalam kegiatan ini. Diawali dengan kirab di jalan sepanjang sekitar 500 meter di kawasan gunung Andong. Para peserta kirab mengusung sejumlah tandu perempuan dan properti lain berupa puluhan bentuk stupa Borobudur serta tetabuhan alat musik tradisional.

Pertunjukan juga ditandai dengan ritual Komunitas Lima Gunung, yang kali ini berupa tarian Lima Ondho (Tangga), yakni Ondho Kencono, Ondho Langit, Ondho Bumi, Ondho Tresno dan Ondho Jiwa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdamaian
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top