DINAMIKA PARTAI GOLKAR: Nahkoda Baru Itu Bernama Novanto

Tak ada kejutan luar biasa dari perhelatan Musyawarah Nasional (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, yang ditutup hari ini, Selasa (17/5/2016).
Tomy Sasangka | 17 Mei 2016 11:50 WIB
Ketua Umum Partai Golkar terpilih Setya Novanto (tengah) mendapat sambutan dari para pendukungnya, seusai pemungutan suara dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar 2016 di Nusa Dua, Bali, Selasa (17/5). - Antara/Nyoman Budhiana

Kabar.com, JAKARTA - Tak ada kejutan luar biasa dari perhelatan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, yang ditutup hari ini, Selasa (17/5/2016).

Setya Novanto akhirnya terpilih sebagai ketua umum dengan menyisihkan tujuh kandidat lainnya setelah pesaing terdekatnya, Ade Komarudin, menyatakan mundur dan mengalihkan dukungan kepada Novanto.

Sejak awal diprediksikan bahwa Setya Novanto dan Ade Komarudin bakal bersaing ketat dalam perebutan kursi ketua umum. Nyatanya, dua nama ini dalam putaran pertama memang meraup suara terbanyak. Novanto meraih 277 suara, dan Ade memperoleh 173 suara. Keduanya melampaui persyaratan minimal perolehan suara 30% untuk bisa maju ke putaran kedua.

Namun Ade Komarudin yang akrab disapa Akom lebih memilih tidak melanjutkan ke putaran kedua, dan memberikan dukungan kepada Novanto yang biasa disapa Setnov. Maka, selesailah perhelatan Munaslub Golkar, yang diniatkan sebagai forum rekonsiliasi antara dua kubu yang bersetru dua tahun terakhir, yaitu kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono sehubungan adanya kepengurusan ganda Partai Golkar.

Terpilihnya Novanto seperti hendak mengonfirmasi bahwa sosok satu ini memang begitu tangguh, dan memiliki jejaring kuat di kalangan pengurus pusat dan daerah, juga organ penting lainnya di Partai Beringin. Menjadi ketua umum partai terbesar kedua dalam perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2014 merupakan bukti bahwa Novanto mempunyai keterampilan politik ‘di atas rata-rata’.

Betapa tidak? Alih-alih karier politiknya segera tamat terkait dengan meledaknya kasus ‘papa minta saham’ yang sempat disidangkan di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan berbuntut mundurnya dia dari Ketua DPR, ternyata Novanto tetap eksis dalam jagat politik Tanah Air.

Badai politik ala dugaan pencatutan nama presiden dan wapres terkait skandal permintaan saham PT Freeport Indonesia itu tak cukup mampu menenggelamkan karier politik Novanto. Belakangan bahkan Kejaksaan Agung mengendapkan pengusutan kasus dugaan permufakatan jahat tersebut karena dinilai belum cukup bukti.

Di sela-sela hajatan Munaslub memang terdengar kasak-kusuk yang menyebutkan Novanto antara lain didukung Luhut Binsar Pandjaitan, bekas Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar yang kini menjabat Menko Polhukam.

Sebaliknya, Ade Komarudin disebut-sebut antara lain didukung Jusuf Kalla, mantan Ketua Umum Partai Golkar yang kini menjadi Wapres. Samar-samar konon Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Golkar lainnya,  juga mendukung Ade Komarudin.

Ihwal dukungan yang diberikan Luhut maupun Jusuf Kalla, dalam sambutan pembukaan Munaslub Golkar, Presiden Jokowi dengan setengah bercanda menilai hal itu wajar-wajar saja karena keduanya memang memiliki ikatan dengan Golkar.

JAGO LOBI

Di kalangan politisi dan wartawan politik yang mengikuti dengan intens dinamika Partai Golkar, Novanto memang dikenal sebagai sosok yang pintar bergaul, jago lobi dan berpenampilan kalem.

Meski sosoknya kontroversial karena dikait-kaitkan dengan sejumlah kasus dugaan korupsi seperti skandal cessie Bank Bali, kasus PON Riau, kasus e-KTP dan beberapa lagi, toh Novanto tak pernah benar-benar terbukti terlibat sejumlah kasus tersebut.

Di sisi lain, Novanto memiliki style hampir tak pernah berbicara keras dan tajam terhadap suatu persoalan politik domestik. Dia jenis politisi yang agaknya percaya bahwa forum lobi, kedekatan interpersonal, dan pertemuan informal jauh lebih efektif untuk menyelesaikan beragam permasalahan daripada ‘perang terbuka’ di media massa.

Sejumlah pihak yang melihat pentingnya standar moralitas dan integritas tertentu barangkali mencemaskan masa depan Partai Golkar dalam pemilu mendatang sehubungan dengan terpilihnya Novanto sebagai ketua umum partai warisan Orde Baru tersebut.

Kecemasan itu bermuara pada kemungkinan rontoknya perolehan suara partai karena sang ketua umum memiliki sejumlah catatan tersendiri dalam persoalan moralitas dan integritas—terutama dalam kasus ‘papa minta saham’.

Tentu saja kekhawatiran itu pasti telah dikalkukasi para tokoh dan pengurus Golkar yang memberikan suara kepada Novanto. Namun, apa boleh buat, pilihan harus dijatuhkan dan segala konsekuensi harus diambil. Terpilihnya Novanto sesungguhnya adalah hasil akhir atau muara interaksi lintasan kepentingan dari mayoritas pemilik suara di Partai Golkar terkini.

Akankah Partai Golkar bakal terpuruk atau justru meraih kejayaan di bawah kendali nahkoda baru bernama Novanto? Pemilu 2019 akan menjadi arena pembuktian….

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Munaslub Golkar, setya novanto

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top