Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendukung Brexit Tuding Uni Eropa Bahayakan Keluarga Inggris

Pihak pendukung Brexit, yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa, menuding persekutuan negara di benua biru itu sedang membiarkan keluarga Inggris berada dalam bahaya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Maret 2016  |  18:33 WIB
Pendukung Brexit Tuding Uni Eropa Bahayakan Keluarga Inggris
Bendera Inggris Union Jack nampak berkibar di sebelah bendera Uni Eropa menjelang kunjungan PM Inggris David Cameron ke Belgia (29/1/2016). - Reuters/Francois Lenoir
Bagikan

Kabar24.com, LONDON - Pihak pendukung Brexit, yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa, menuding persekutuan negara di benua biru itu sedang membiarkan keluarga Inggris berada dalam bahaya.

Uni Eropa menempatkan keluarga Inggris dalam bahaya dengan mengizinkan pergerakan bebas penjahat berbahaya, kata pengampanye, yang menginginkan Inggris keluar dari kelompok itu, pada Selasa (29/3/2016), yang disebut "menyebarkan kepanikan" oleh pendukung Uni Eropa.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa kekhawatiran terkait perantauan dan pengendalian perbatasan diperkirakan berperan besar dalam cara warga Inggris memberikan suara dalam penentuan pendapat rakyat pada 23 Juni terkait keanggotaan Inggris di Uni Eropa.

Kampanye Vote Leave, salah satu kelompok pendorong Inggris keluar dari kelompok itu, menyusun daftar mencantumkan nama 50 orang paling berbahaya dari sejumlah negara Uni Eropa di Inggris dan yang telah melakukan beberapa kejahatan, termasuk pembunuhan dan pemerkosaan, di negara itu.

Undang-undang Uni Eropa berarti negara anggota kelompok itu tidak perlu memberikan keterangan kepada pihak berwenang di Inggris secara sistemik terkait latar belakang penjahat dari negara mereka, mengizinkan pergerakan bebas orang berbahaya, ujarnya.

"Keanggotaan Uni Eropa berarti kami telah kehilangan kendali atas perbatasan kami dan tidak dapat mencegah orang-orang berbahaya memasuki Inggris Raya," kata kepala eksekutif Vote Leave, Matthew Elliott.

"Pergerakan bebas masyarakat telah menimbulkan pergerakan para pelaku kejahatan yang menjadikan keamanan dan keselamatan di Inggris Raya menurun," tambah dia.

Pernyataan tersebut mendapat bantahan dari kubu pro-Uni Eropa.

"Itu adalah gabungan antara kekacauan dan kebingungan," kata anggota parlemen dari partai Konservatif, Damian Green, mantan menteri dalam negeri pendukung Inggris tetap tergabung di Uni Eropa.

"Kenyataannya adalah bahwa Inggris Raya memiliki yang terbaik dari kedua dunia. Kami mempertahankan seluruh keuntungan dari keanggotaan Uni Eropa sementara kami menolak untuk tergabung dalam wilayah Schengen yang tanpa paspor dan mempertahankan perbatasan kami di Calais (Prancis) daripada yang ada di Dover," tambah dia.

Dalam beberapa hari terakhir, para pengkampanye dari kedua belah pihak telah saling perang klaim terkait apakah keluarnya Inggris dari Uni Eropa memberikan bahaya untuk Inggris dalam beberapa aspek mulai dari keamanan hingga pelayanan kesehatan nasional.

Menteri Pendidikan Nicky Morgan mengatakan pada Senin bahwa para generasi muda dapat menjadi "generasi yang hilang" jika Inggris keluar dan sejumlah perusahaan akan menahan perekrutan atau mengiklankan pekerjaan.

Vote Leave mengatakan Uni Eropa berdampak buruk terhadap generasi muda dengan cara meningkatkan biaya dan menurunkan upah kerja.

Pengampanye pendukung tetap menjadi anggota berkeinginan mengerahkan pemilih muda, yang berdasar survei menunjukkan sebagian besar mendukung Uni Eropa.

Namun mereka diperkirakan akan malas memberikan suara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa inggris Brexit

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top