Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI TAHU TEMPE: Di Mataram Bangkit Dari 'Mati Suri'

Sebanyak 15 pengusaha tempe dan dua pengusaha tahu di Kota Mataram, kini sudah mulai berproduksi setelah sempat "gulung tikar" akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 21 September 2015  |  13:42 WIB
Sebanyak 15 pengusaha tempe dan dua pengusaha tahu di Kota Mataram, kini sudah mulai berproduksi setelah sempat
Sebanyak 15 pengusaha tempe dan dua pengusaha tahu di Kota Mataram, kini sudah mulai berproduksi setelah sempat "gulung tikar" akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. - JIBI

Bisnis.com, MATARAM -  Sebanyak 15 pengusaha tempe dan dua pengusaha tahu di Kota Mataram, kini sudah mulai berproduksi setelah sempat "gulung tikar" akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

"17 anggota kami yang sempat 'gulung tikar' awal bulan lalu, kini sudah mulai berproduksi kembali," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Tahu-Tempe Kelurahan Kekalik Jaya H Hasbah di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (21/9/2015).

Hasbah mengatakan, pengusaha tempe dan tahu itu kembali berproduksi setelah mendapatkan pembinaan dari asosiasi dan pendataan dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Pedagangan (Dikoperindag) Kota Mataram.

Dalam pembinaan itu, para pengusaha diberikan motivasi agar bisa kembali berusaha memproduksi tempe dan tahu seperti aktivitas sehari-hari mereka, apalagi mereka rata-rata sudah memiliki keluarga dan membutuhkan biaya untuk hidup sehari-hari, yang tidak bisa tercukupi hanya dengan menjadi kuli angkut bahan baku bagi pengusaha lain.

"Setelah mendapatkan pembinaan dan motivasi, beberapa pengusaha mulai memproduksi dengan menggunakan modal dari tabungan mereka," katanya.

Meskipun, harga kedelai impor sebagai bahan dasar tempe tahu masih relatif tinggi yakni Rp7.400 per kilogram, sementara kedelai lokal yang diandalkan hingga kini belum ada.

Akan tetapi, lanjutnya, sebagian dari pengusaha yang sempat "gulung tikar" juga berangkat ke Bali karena mereka mendapatkan peluang kerja yang lebih bagus.

"Sebagian dari mereka ada juga yang ikut bekerja dengan keluarganya di Bali untuk memproduksi tahu tempe juga," sebutnya.

Menurut Hasbah yang juga menjadi dosen salah satu universitas swasta ini mengharapkan, selain Dikoperindag melakukan pendataan, Dikoperindag juga dapat memberikan bantuan atau dana stimulan kepada para pengusaha tempe tahu di wilayah itu.

"Saat datang, pihak Dikoperindag hanya melakukan pembinaan dan pendataan belum ada menyebut bantuan. Tapi, kita berharap pemerintah bisa memberikan bantuannya," katanya.

Selain modal, bantuan yang diharapkan pengusaha kecil adalah gerobak dorong untuk menjajakkan hasil produksi mereka ke masyarakat.

"Kalau ada gerobak dorong, pengusaha tempe dan tahun bisa berjualan keliling kampung di samping di bawa ke pasar," ujarnya.

Diketahui, jumlah pengusaha tahu dan tempe di Kekalik Jaya sebanyak 113 pengusaha tempe dan 89 pengusaha tahu, dengan kedelai untuk memprduksi tempe dan tahun mencapai 20 ton per hari.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tahu tempe

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top