Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jumlah Pengungsi Suriah Capai Empat Juta Orang

Lebih dari empat juta warga Suriah telah melarikan diri dari perang sipil yang melanda negara tersebut untuk menjadi pengungsi di wilayah sekitar.
Ilustrasi/Reuters
Ilustrasi/Reuters

Melarikan diri ke Turki

Pernyataan UNHCR itu disampaikan di tengah munculnya laporan dari Turki -- yang saat ini telah menampung sekitar 1,8 juta warga Suriah -- yang tengah menyiapkan fasilitas penampungan baru berkapasitas 55.000 orang demi mengantisipasi perkiraan eksodus besar-besaran akibat eskalasi konflik di daerah perbatasan Aleppo.

Selain ke Turki, sebanyak 1,17 juta warga Suriah juga mencari perlindungan di Lebanon. Jumlah itu setara dengan seperempat total populasi negara penampung.

Sementara itu Yordania menjadi tuan rumah bari 629.000 pengungsi Suriah, di Irak sebanyak 250.000, Mesir sebesar 132.500, dan 24.000 lainnya melarikan diri ke negara Afrika Utara lain, demikian data terbaru UNHCR.

Sekitar 270.000 warga Suriah saat ini tengah mecari suaka ke Eropa, kata UNHCR.

Organisasi itu membutuhkan US$5,5 juta pada tahun ini untuk membantu para pengungsi Suriah dan sejumlah komunitas penampung di negara-negara sekitar. Sampai sejauh ini, UNHCR baru bisa mengumpulkan kurang dari setengah jumlah tersebut.

"Ini berarti bahwa para pengungsi harus menerima jatah makanan yang lebih sedikit. Mereka juga kesulitan memperoleh layanan kesehatan atau pun mengirim anak-anak ke sekolah," kata UNHCR

UNHCR menambahkan bahwa kehidupan bagi pelarian Suriah semakin sulit.

Sekitar 85% di antara mereka yang berada di luar penampungan Yordania hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan kurang dari US$3,2 per hari. Selain itu, 55% pengungsi Suriah di Lebanon tinggal di penampungan yang tidak memenuhi standar.

Mengingat konflik berdarah telah memasuki tahun kelima tanpa tanda-tanda akan berakhir, UNHCR mengatakan bahwa banyak pengungsi telah kehilangan harapan untuk kembali ke negaranya.

Saat mereka semakin putus asa, banyak di antara mereka yang terlibat dalam "sejumlah praktik negatif", seperti mempekerjakan anak, mengemis, dan menikahkan anak di bawah umur, demikian UNHCR mengingatkan.

Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, tanah, perumahan, air, dan energi juga membuat beban yang besar bagi komunitas penampung.

"Kita tidak boleh membiarkan mereka dan komunitas yang menampung mereka ke dalam jurang keputus-asaan yang lebih dalam," kata Guterres.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper