Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Laboratorium Seharga Rp6 Miliar di Bali

Bali secara resmi memiliki laboratorium bahan bangunan yang akan menunjang penelitian dan pengembangan bangunan rumah tradisional.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 06 April 2015  |  19:20 WIB

Bisnis.com, MANGUPURA—Bali secara resmi memiliki laboratorium bahan bangunan yang akan menunjang penelitian dan pengembangan bangunan rumah tradisional.

Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional (BPTPT) Denpasar Aris Prihandoko menjelaskan laboratorium yang berada di Desa Angantaka, Kabupaten Badung itu akan menjadi tulang punggung pengujian, rekayasa dan alih teknologi penelitian rumah tradisional di Bali, Jawa, Kalimantan, NTB dan NTT.

Laboratorium di lahan seluas 1.500 meter persegi itu dilengkapi dengan peralatan untuk pengujian dan rekayasa bahan bangunan alternatif, termasuk kayu dan bambu.

"Laboratorium ini diperlukan dalam upaya pengembangan bahan bangunan berbasis bahan baku lokal untuk penyediaan rumah di Indonesia," ujarnya saat peresmian di Badung, Senin (6/4/2015).

Dia melanjutkan pengembangan bahan bangunan berbasis bahan baku lokal merupakan salah satu upaya dalam mengefisiensikan produksi rumah. Sebagai gambaran, 60%-70% dari biaya produksi bangunan rumah dipergunakan untuk bahan bangunan.

Aris mengharapkan laboratorium yang menghabiskan nilai investasi Rp6 miliar tersebut dalam tempo lima tahun dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Teknologi yang dikembangkan oleh laboratorium ini seperti laminasi Bambu, teknologi bahan limbang batu apung, serta rumah bongkar pasang (knockdown) menggunakan kayu berkualitas rendah.

Untuk menjawab tantangan ke depan, 50% tenaga kerja yang ditempatkan di laboratorium ini merupakan peneliti di lingkungan Kementerian PU dan Pera.

Sementara itu, Plt Kepala Balitbang Kementerian PU dan Pera Waskito Pandu menjelaskan keberadaan laboratorium ini dapat menjawab kebutuhan teknologi dalam pembangunan rumah tradisional serta bantuan teknis bagi pengguna. Selama ini, ujarnya, Balitbang sering diminta bantuan oleh Dirjen teknis di lingkungan Kementerian PU dan Pera untuk aplikasi pembangunan sangat banyak.

Guna mewujudkan permintaan itu, sarana dan prasarana seperti laboratorium sangat dibutuhkan agar dapat menerapkan penggunaan teknologi.‎ Diharapkan ke depannya laboratorium semakin membantu aplikasi rumah tradisional di berbagai wilayah yang sekarang ini fungsi dan keberadaanya sangat membantu masyarakat.

"Contoh penggunaan gewang untuk rumah di NTT, ternyata lebih adem dibandingkan dengan menggunakan bahan bangunan lain," jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahan bangunan
Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top