Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BELIMBUR: Akhiri EIFAF 2013 di Tenggarong

BISNIS.COM, TENGGARONG--Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) 2013 yang berlangsung sepekan di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, ditutup dengan meriah, Minggu (7/7/2013).
Muhamad Yamin
Muhamad Yamin - Bisnis.com 08 Juli 2013  |  11:29 WIB
Bagikan

BISNIS.COM, TENGGARONG--Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) 2013 yang berlangsung sepekan di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, ditutup dengan meriah, Minggu (7/7/2013).

Penutupan acara budaya Erau yang rutin dilaksanakan setiap tahun itu, dengan prosesi Belimbur atau siraman air.

Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari mengatakan Erau kali ini lebih meriah dan terselenggara dengan sukses.

Pertunjukan 8 negara yang tergabung dalam CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts) yang meramaikan Erau mampu, menarik pengunjung yang datang dan memberikan wawasan tentang budaya luar negeri.

"Artinya, Erau berjalan sukses dengan semakin banyak pengunjung yang datang," kata Rita, Minggu.

Dia mengajak agar masyarakat Kutai melestarikan prosesi penutupan Erau, Belimbur dan tidak merusaknya dengan tindakan siraman berlebihan karena budaya yang unik yakni siraman air, diartikan penyucian untuk kebaikan sesama.

"Tidak apa-apa semuanya basah-basahan dalam Belimbur ini. Ini merupakan budaya yang unik dan perlu dilestarikan, tidak boleh berlebihan apalagi menyakiti.  Jika basah akan membawa kebaikan buat kita," ujarnya saat ditemui di sela-sela Belimbur.

Pada Erau kali ini,  Rita ikut menyusuri jalan raya, tak pelak dirinya terkena siraman air oleh warga.

Sekedar diketahui, Belimbur dimulai ketika Sultan Ing Martadipura HAM Salehuddin II memercikan air kepada orang di sekitarnya. Percikan air dilakukan Sultan setelah melakukan prosesi naik ke Rangga Titi (balai terbuat dari bambu kuning) dan memercikan air Tuli dari Kutai Lama ke dirinya sendiri.

Percikan air inilah disambut suka ria warga Kutai  dan pengunjung yang berada di sekitar museum saling menyiram air. Untuk mencegah hal-hal yang  tak diinginkan seperti perbuatan asusila dan menggunakan air kotor saat siraman, pemerintah daerah membatasi Belimbur hanya dilakukan di sepanjang Sungai Mahakam.

Namun, saat Belimbur akhir pekan lalu, masih ada saja warga yang melakukan siram menyiram air di tempat yang tidak diperbolehkan. Misalnya, di Jalan Pesut, dekat Pasar Tangga Arung dan beberapa jalan lainnya. Bahkan, adapula yang menyiramkan air kotor yang diambil dari genangan di atas tanah. (wde)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Sumber : Muhamad Yamin

Editor : Wiwiek Endah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top