INFLASI BALIKPAPAN 0,11%, Sektor Perumahan Beri Andil Tertinggi

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Sektor perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar menjadi kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi tertinggi terhadap inflasi Kota Balikpapan pada April yang tercatat mencapai 0,11%.
Rachmad Subiyanto
Rachmad Subiyanto - Bisnis.com 01 Mei 2013  |  16:15 WIB

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Sektor perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar menjadi kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi tertinggi terhadap inflasi Kota Balikpapan pada April yang tercatat mencapai 0,11%.

Kepala Seksi Statistik Produksi BPS Kota Balikpapan Umar Riyadi mengatakan kontribusi sektor perumahan terhadap inflasi mencapai 0,21% terhadap total inflasi. Biaya sewa rumah menjadi penyumbang terbesar inflasi karena memberi kontribusi sebesar 0,13%.

“Memang lebih tinggi kalau dibandingkan bulan sebelumnya. Tetapi kami belum bisa menemukan kemungkinan penyebabnya,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (1/5/2013).

Kenaikan upah minimum kota pada awal tahun bisa jadi salah satu penyebab yang mengerek kenaikan biaya sewa rumah. Umar berpendapat ada penyesuaian harga kendati alasan ini kemungkinan kecil menjadi salah satu penyebabnya.

Selain sektor perumahan, empat kelompok pengeluaran juga mengalami inflasi sepanjang April secara berurutan yakni kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,04%, kelompok kesehatan 0,016%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,13%, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,005%.

Adapun dua kelompok pengeluaran lain mengalami deflasi yakni bahan makanan sebesar 0,28% dan sandang 0,007%.

Umar memaparkan angka inflasi bulan ini lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya yang berada diatas 0,5%. Secara tahunan, laju inflasi Balikpapan telah mencapai 6,39%.

“Pada Januari inflasi sampai 1,09%, Februari 0,54% dan Maret mencapai 0,87%. Kalau bulan ini 0,11%, kami harapkan dapat mendrive inflasi di akhir tahun ke angka yang lebih rendah lagi,” tukasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Tutuk S.H. Cahyono berpendapat kelompok pengeluaran perumahan menjadi salah satu kelompok yang berpotensi mengerek inflasi sejak lama.

Hal ini bisa dilihat dari bobot inflasi yang cukup besar pada sub sektor sewa rumah yang mencapai 6,5%.

“Kalau bobotnya besar berarti menunjukkan adanya masalah yang terus menerus terjadi sehingga terakumulasi,” katanya.

Selain itu, ada juga komponen biaya tak terduga yang menjadi penyebab tingginya harga rumah tersebut. Pemerintah perlu memerhatikan kondisi ini agar tidak terus menggerogoti daya beli konsumen yang sebagian besar bersandarkan hidup sebagai karyawan. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, bps, balikpapan, deflasi, sektor perumahan

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Wiwiek Endah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top