Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KRISIS PALESTINA: Kekerasan Terhadap Perempuan Atas Nama Adat Masih Marak

RAMALLAH—Kasus kekerasan terhadap perempuan atas nama adat istiadat dan sopan santun masih banyak terjadi.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 27 Januari 2013  |  03:46 WIB

RAMALLAH—Kasus kekerasan terhadap perempuan atas nama adat istiadat dan sopan santun masih banyak terjadi.

Di seluruh dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa menaksir 5.000 perempuan dibunuh dan disiksa setiap tahun oleh kerabat lelaki sebagai hukuman atas perilaku yang dinilai merusak nama baik keluarga.

Antara 2007 dan 2010, sebanyak 29 perempuan di Tepi Barat secara resmi dilaporkan dibunuh atas nama kehormatan. Jumlah kasus yang tidak dilaporkan diyakini jauh lebih tinggi.

Menteri Dalam Negeri Palestina menolak mengumumkan berapa angka pasti pembunuhan demi kehormatan ini.

Tepi Barat berpenduduk sekitar 4 juta, dan Gaza sekira 1,5 juta.

“Tigabelas perempuan Palestina (yang diketahui) dibunuh di Wilayah Palestina pada 2012 atas apa yang disebut ‘pembunuhan demi kehormatan’,” ujar Soraida Hussein dari Komite Khusus Urusan Perempuan Palestina (WATC), sebuah kelompok penasihat untuk Dewan Legislatif Palestina (PLC) yang dibentuk sebelum Perjanjian Damai Oslo 1993, sebagaimana dikutip IPS, Sabtu (26/1/2013).

Padahal faktanya, kata dia, sebagian besar kasus pembunuhan ini tak punya kaitan sama sekali dengan melindungi kehormatan keluarga. Pembunuhan justru dilakukan karena berbagai alasan kejahatan seperti perselisihan keluarga atau sengketa keuangan.

Hukum Palestina di Tepi Barat bersandar pada Pasal 97-100 Hukum Pidana Yordania, yang menetapkan pengurangan hukuman untuk setiap perbuatan menyentuh/menciderai tubuh seseorang tanpa izin atau pembunuhan yang dilakukan dalam “keadaan marah”.

Hukum di Gaza, bersandar pada Hukum Pidana Mesir, juga mengurangi hukuman bagi lelaki yang terbukti bersalah membunuh kerabat perempuannya dalam kejahatan didorong amarah (crimes of passion), terutama terkait tuduhan berperilaku seksual yang tak patut dan kehormatan keluarga.

Menurut Pusat Bantuan Hukum dan Konseling untuk Perempuan (WCLAC) di Ramallah, sedikit sekali lelaki yang melakukan pembunuhan ini dihukum.

Bahkan kalaupun dihukum, umumnya hanya beberapa bulan saja.

Pada 2006, Otoritas Palestina, yang menguasai Tepi Barat, menandatangani Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW).

Hassan al-Ouri, jurubicara Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas baru-baru ini menyatakan Otoritas Paelstina mendukung untuk mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan sepanjang tak bertentangan dengan hukum Syariat. (Farodlilah Muqoddam/sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top