SEWINDU TSUNAMI ACEH: 5.000 Warga banjiri Pelabuhan Malahayati

BANDA ACEH: Ribuan warga Aceh menggelar doa bersama di sejumlah masjid dan tempat bersejarah guna memperingati 8 tahun tsunami setiap 26 Desember.Di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya, Aceh Besar, sekitar 5.000-an warga mengikuti tausiyah, zikir, dan doa
News Editor | 26 Desember 2012 20:09 WIB

BANDA ACEH: Ribuan warga Aceh menggelar doa bersama di sejumlah masjid dan tempat bersejarah guna memperingati 8 tahun tsunami setiap 26 Desember.Di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya, Aceh Besar, sekitar 5.000-an warga mengikuti tausiyah, zikir, dan doa bersama.Warga juga menziarahi kuburan massal di kawasan Siron, Lambaro, Aceh Besar, dan Ulee Lheue, Banda Aceh. Mereka terlihat memanjatkan doa dan menabur bunga ke makam yang tidak berpusara itu.Peringatan di Malahayati dihadiri oleh Gubernur Zaini Abdullah, Wakil Ketua MPR RI A. Farhan Hamid, Ketua Forum Bersama Anggota DPR/DPD RI asal Aceh M. Nasir Djamil, delapan guru asal Jepang, pelajar, guru, santri, pegawai negeri, dan masyarakat.Pada peringatan 8 tahun tsunami pada tahun ini masyarakat Aceh tak lagi larut dalam kesedihan. Sewaktu ilustrasi audio mengenai kepanikan tsunami diperdengarkan melalui pengeras suara, hanya sejumlah warga saja yang terlihat menitikkan air mata.Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengemukakan sewindu tsunami ini diperingati bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk membangkitkan semangat warga, sekaligus menyadarkan agar peduli dengan pelestarian lingkungan dan waspada terhadap berbagai kemungkinan bencana yang dapat datang kapan saja.Zaini Abdullah mengimbau semua kalangan untuk menyebarkan informasi mengenai pengurangan risiko bencana, sehingga Aceh dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai bencana yang dapat saja terjadi di masa mendatang.“Kita semua harus memperbaharui tekad dan kewaspadaan kita terhadap segala jenis bencana,” ujar Zaini.Tsunami Aceh menyebabkan 170.000 lebih warga Aceh meninggal, 500.000 kehilangan tempat tinggal, dan 8.000 kilometer garis pantai hancur. Tsunami pada 2004, merupakan bencana terparah di dunia dalam 50 tahun terakhir.Zaini menyebutkan masyarakat Aceh harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Apalagi Aceh merupakan daerah rawan bencana, yang terletak di atas dua lempeng tektonik, yaitu Eurasia dan Indo-Australia.“Karena itu, saya mengimbau agar masyarakat di tingkat kecamatan sebaiknya membentuk komunitas-komunitas peduli bencana,” tambah Zaini.Komunitas ini, papar Zaini, diharapkan bisa berperan dalam menyosialisasikan teknik-teknik penanggulangan bencana, sehingga program mitigasi bencana dapat tersebar ke seluruh masyarakat di Aceh.“Jika pemahaman masyarakat terhadap bencana sudah cukup baik, maka sudah tentu upaya penanggulangan bencana juga akan lebih efektif dijalankan,” ujarnya.Badan Penanggulangan Bencana dan Dinas Sosial baik di tingkat provinsi dan daerah tingkat dua diminta untuk selalu tanggap terhadap kondisi bencana.“Tingkatkan kewaspadaan dan kepekaan sehingga kita bisa menyelamatkan masyarakat dari ancaman bencana,” sebut mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka itu.Zaini menyebutkan bencana di Aceh tak hanya berupa gempa dan tsunami. Namun, longsor dan banjir bandang terus mengancam Aceh.“Bencana ini terjadi akibat manusia tidak peduli terhadap alam. Manusia dengan serakahnya telah merusak hutan, laut, danau, sehingga keseimbangan alam menjadi rusak,” papar Zaini. (k33/arh)

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : JIBI

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup