Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GEMPA BUMI: 157 Juta Penduduk Hidup di Daerah Bencana

JAKARTA: Sebanyak 157 juta penduduk yang hidup di 386 kabupaten/kota, diperkirakan terancam jiwanya karena bencana gempa bumi dan tsunami.
Adhitya Noviardi
Adhitya Noviardi - Bisnis.com 20 Desember 2012  |  15:47 WIB

JAKARTA: Sebanyak 157 juta penduduk yang hidup di 386 kabupaten/kota, diperkirakan terancam jiwanya karena bencana gempa bumi dan tsunami.

Walau kejadian bencana tersebut tidak dapat diprediksi dan sering bersifat mendadak, masyarakat harus tetap mewaspadai tanda-tanda kehadirannya di wilayah masing-masing

"Ratusan kabupaten tersebut berada di daerah rawan tinggi, dan sangat tinggi gempa," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hari ini, Kamis (20/12/2012), saat menyampaikan Evaluasi Penanggulangan Bencana 2012, Prediksi dan Antisipasi Bencana 2013, di Jakarta.

Selain itu, katanya, tren kejadian puting beliung pada tahun depan akan terus terjadi, bahkan cenderung meningkat. Terutama pada periode Maret-April 2013. Penyebabnya antara lain meningkatnya pengaruh perubahan iklim global dan antropogenik.

Sutopo menjelaskan potensi tsunami terdapat di 233 kabupaten/kota, dengan penduduk 5 juta jiwa yang berada pada daerah rawan tsunami.

Mengenai erupsi gunun gapi, Sutopo mengatakan tidak dapat diprediksi untuk jangka panjang. Beberapa watak letusan gunungapi kini sudah berubah.

Menurut dia, yang harus diperhatikan adalah sebanyak 6 gunung berstatus siaga atau level III. Yaitu Gunung Raung, Rokatenda, Sangeangapi, Lokon, Karangetan, dan Ijen.

Selan itu juga ada 13 gunung berstatus waspada atau level II. Yaitu Gunung Gamalama, Bromo, Talang, Krakatau, Kerinci, Gamkonora, Ibu, Papandayan, Ili Lewotolo, Sinabung, Dukono, Semeru, dan Marapi.

"Gunung Lokon diperkirakan masih memiliki energi untuk terjadi letusan, seperti yang terjadi selama ini," ungkapnya.

Hingga saat ini, katanya, belum ada teknologi yang bisa mendeteksi secara dini kejadian puting beliung, seperti halnya tsunami.

"Padahal teknologi ini sangat diperlukan, mengingat cakupan terjangan puting beliung hanya kurang dari 2 km, waktu kejadian kurang dari 10 menit, dan tidak semua awan cumulonimbus selalu menimbulkan puting beliung," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa BNPB, Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, sudah melakukan diskusi mengenai hal ini.

"Hasilnya, memang belum ditemukan teknologi peringatan dini puting beliung," ungkapnya. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top