SUBAK: Kearifan Lokal Memecahkan Berbagai Persoalan

LOKASI yang berundak-undak (terasering) pada hamparan lahan sawah yang menghijau di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali memiliki keindahan panorama alam.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2012  |  08:24 WIB

LOKASI yang berundak-undak (terasering) pada hamparan lahan sawah yang menghijau di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali memiliki keindahan panorama alam.

Perpaduan lembah dan perbukitan di bagian hulu Gunung Batukaru yang dikitari lingkungan dan kawasan hutan lestari, menjadi satu kesatuan hamparan lahan sawah yang cukup luas.

Sedikitnya 15 subak di kawasan Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan dan tiga subak di daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, Kabupaten Gianyar dengan total luas sekitar 1.000 hektare menjadi warisan budaya dunia (WBD).

Unesco, organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan WBD di Bali melalui sidang pleno yang berlangsung di St Petersburg, Rusia, pada 20 Juni 2012.

"Masyarakat dan pemerintah di Bali melakukan perjuangan untuk menjadikan organiasi pengairan tradisional bidang pertanian (subak) itu selama 12 tahun," tutur Guru Besar Universitas Udayana Prof I Wayan Windia yang juga sekretaris tim penyusunan proposal warisan budaya dunia.

Ia mengatakan, sistem subak yang diterapkan masyarakat Bali secara turun temurun sejak abad ke-11 hingga kini tetap eksis yang mampu mewariskan keteladanan dan acuan memecahkan masalah masa depan.

Warisan dunia pada sistem subak di Bali tidak hanya menyangkut pengaturan irigasi, namun juga ada nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia.

Nilai-nilai tersebut menyangkut nilai harmoni dan kebersamaan yang dikenal masyarakat Pulau Dewata dengan konsep Tri Hita Karana, yakni keserasian dan keharmonisan sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Prof Windia yang juga ketua grup riset sistem subak Unud itu meyakini di masa depan persolaan-persoalan yang dihadapi masyarakat dunia tidak dapat dipecahkan hanya dengan aturan tertulis.

Permasalahan yang dihadapi umat manusia di berbagai negara semakin komplek dan dengan berbagai macam kepentingan, sehingga perlu solusi yang dapat digali dari kearifan lokal yang ada pada subak di Bali.

Kearifan lokal pada subak itu dapat digunakan sebagai acuan dalam memecahkan berbagai permasalahan umat manusia di masa depan.

Nilai-nilai harmoni dan persamaan adalah nilai-nilai yang universal yang langsung diterapkan dalam sistem subak di Bali. Dengan ditetapkan subak sebagai warisan budaya dunia umat manusia di dunia perlu belajar dari sistem subak yang tetap eksis di Bali.

Jika masyarakat sekarang sulit mendapatkan keteladanan dari pemimpin-pemimpinnya, kini bisa mencari keteladanan itu dari para petani yang tergabung dalam sistem subak di Pulau Dewata.

"Nilai-nilai keteladanan, kebersamaan, gotong royong dan kepedulian sesama petani yang terhimpun dalam wadah subak bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara," ujar Prof Windia.

Terbaik Prof Windia yang baru saja datang dari Hong Kong untuk tampil sebagai pembicara dalam Konperensi kebudayaan masa depan (future culture) menilai, subak yang diterapkan masyarakat Bali secara turun temurun hingga sekarang masih merupakan yang terbaik di antara sistem pertanian di Indonesia maupun di berbagai negara dalam mengintensifkan pembangunan sektor pertanian.

Namun keberadaan subak di Bali kini menghadapi tantangan dan kelemahan secara berlanjut, antara lain menyangkut sumber mata air yang tadinya untuk irigasi pertanian kini dimanfaatkan oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi pelanggan.

Demikian pula saluran irigasi yang sering tersumbat, bahkan diputus akibat sawah di bagian hilir sudah berubah fungsi menjadi rumah pemukiman, yang cenderung menimbulkan pencemaran.

"Sementara pajak sawah yang harus dibayar petani cukup mahal, tidak sebanding dengan hasil yang diraih petani, di samping pencemaran sawah, akibat lingkungan sekitarnya berubah menjadi tempat-tempat pemukiman," katanya.

Dengan adanya pengayoman dan pengakuan dari dunia internasional, yakni subak menjadi bagian dari warisan budaya dunia, maka subak diharapkan tetap lestari, kokoh dan eksis di tengah terpaan berbagai tantangan dari dalam dan luar subak.

Sistem subak dengan didukung penerapan pertanian organik berperan strategis dalam pelestarian alam dan penguatan budaya Bali. Organisasi itu berlandaskan sosio-kultural masyarakat, dan bersifat otonom, baik ke dalam maupun ke luar.

Berkat sifat dan landasan yang dimiliki itu, menjadikan subak di Bali berkembang menjadi organisasi yang fleksibel, mampu mengadopsi perkembangan teknologi maupun dinamika budaya masyarakat.

Namun proses pembangunan yang menyangkut berbagai aspek, termasuk sektor pertanian menurut Prof Windia yang juga mantan DPR-RI periode 1997-1999 itu memerlukan dukungan kelembagaan yang kokoh.

Subak sejak kelahirannya abad XI (tahun 1071), sanggup tampil sebagai organisasi yang mampu memberikan dukungan terhadap proses pembangunan pertanian pada setiap zamannya.

Pada zaman kerajaan misalnya, memperoleh subsidi pembebasan pajak dari para raja, subak tampil untuk memenuhi perintah raja, dalam memenuhi kebutuhan pangan kerajaan, melalui proses ekstensifikasi.

Demikian pula pada zaman Belanda (tahun 1925), subak berperan serta dalam pembangunan berbagai bendung di Bali, dan mendistribusikan air irigasi itu secara proporsional kepada petani anggota subak, tanpa pernah menimbulkan konflik.

Distribusi air irigasi tanpa konflik dapat dilakukan subak, karena mereka memiliki konsep distribusi, sesuai luasnya lahan garapan masing-masing anggota subak, yang dikenal dengan konsep "tektek" dan sistem "pelampias".

Sedangkan pada zaman Orde Lama, subak membantu pemerintah dalam kebijakan padi-sentra. Lanjut, pada zaman Orde Baru, tampaknya subak memiliki peran yang sangat penting dalam program bimas, inmas, insus, dan memberikan dukungan yang kuat atas keberhasilan Bali dalam mewujudkan ketahanan pangan pada tahun 1984.

Sistem subak yang diterapkan secara turun-temurun di Bali, tampaknya tidak pernah menghirau peraturan pemerintah maupun peraturan perundang-undangan yang diterbitkan terkait dengan ke-irigasi-an, pengairan, dan sumberdaya air.

Terakhir pada zaman reformasi, masyarakat irigasi sibuk dengan UU tentang sumberdaya, namun subak di Bali tidak pernah hirau.

Kata Prof Windia hal itu berkat landasan, sifat dan organisasi yang dimiliki subak mampu menghadapi gelombang perubahan di lingkungan strategis dengan sifat fleksibelitas yang cukup mengagumkan. (Antara/ems)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Muhammad Khamdi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top