Indikasi monopoli, harga semen perlu dikendalikan

JAKARTA: Kalangan pelaku jasa konstruksi nasional menilai pemerintah ke depan perlu mengendalikan harga semen sebagai komoditas penting dalam penyelenggaraan konstruksi, menyusul adanya indikasi monopoli suplai oleh perusahaan swasta asing.
Rachman | 15 Desember 2010 10:14 WIB

JAKARTA: Kalangan pelaku jasa konstruksi nasional menilai pemerintah ke depan perlu mengendalikan harga semen sebagai komoditas penting dalam penyelenggaraan konstruksi, menyusul adanya indikasi monopoli suplai oleh perusahaan swasta asing.

Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Sudarto mengatakan saat ini sebagian besar market share kebutuhan semen di Indonesia disuplai oleh asing, jika kondisi ini tidak diantisipasi bisa jadi pasokan komoditas penting untuk pembangunan konstruksi ini akan dikuasai asing.

Menurut dia kalau pasokan semen dimonopoli oleh asing, pihaknya mengkhawatirkan adanya penguasaan harga semen yang bisa mengancam keberlangsungan industri semen dalam negeri dan berimbas pada konstruksi nasional.

Yang harus diantisipasi oleh pemerintah adalah kontroling harga semen, karena kalau pasokan semen dikuasai asaing, bisa jadi perusahaan semen asing ini yang mengendalikan harga, katanya kepada Bisnis, hari ini.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) Irwan Kartiwan mengatakan pemerintah perlu merubah cetak biru struktur konstruksi di Indonesia dari pola konservatif yang sangat bergantung pada semen menjadi lebih modern dengan memanfaatkan bahan adiktif yang lebih ramah lingkungan.

Dia menambahkan penggunaan semen di banyak negara maju sudah mulai di batasi dan mengganti dengan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan, kondisi tersebut lebih diperkuat dengan pembatasan pembangunan pabrik semen di sejumlah negara.

Menurut dia, berkembangnya perusahaan semen asing di Indonesia dipicu oleh tingginya kebutuhan komoditas konstruksi tersebut, ditambah dengan regulasi yang masih belum membatasi perkembangan industri semen di wilayah ini.

Indonesia masih sangat tergantung dengan semen, kedepan diharapkan dapat mengurangi penggunaannya dan mengganti dengan bahan adiktif yang lebih ramah lingkungan seperti aspal buton, ujarnya.

Pihaknya mengkhawatirkan jika perkembangan industri semen asing di Indonesia tidak dibatasi maka yang ditakutkan adalah mereka [perusahaan semen asing] melakukan ekspor semen besar-besaran yang mengancam kerusakan lingkungan. (06)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top