Kerja sama kurs Asia Timur butuh pengorbanan

JAKARTA: Pembentukan kerja sama kurs regional di Asia Timur dinilai akan memerlukan waktu yang panjang serta pengorbanan kedaulatan politik-ekonomi setiap negara yang tercakup di dalamnya.
Yanto Rachmat Iskandar | 08 Desember 2010 09:03 WIB

JAKARTA: Pembentukan kerja sama kurs regional di Asia Timur dinilai akan memerlukan waktu yang panjang serta pengorbanan kedaulatan politik-ekonomi setiap negara yang tercakup di dalamnya.

Kerja sama mengenai nilai tukar di Asia Timur merupakan ide yang bagus, tetapi sulit dipraktikkan, kata Thomas R. Rumbaugh, Division Chief IMF untuk Asia Pasifik, kepada Bisnis hari ini.Pernyataan dia merespons laporan Asia Economic Monitor yang dipublikasikan Bank Pembangunan Asia (ADB) pekan ini. Di laporan itu, ADB menegaskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempertimbangkan kerjasama nilai tukar di kawasan itu.Kawasan yang dimaksud meliputi 10 negara anggota Asean, ditambah China, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan. ADB menawarkan tiga opsi yang dapat diambil menuju kerjasama nilai tukar, yaitu pertama, membentuk kesepakatan stabilisasi nilai tukar.Kedua, mematok nilai mata uang ke dalam keranjang sekumpulan mata uang atau antara mata uang negara yang satu dengan negara lainnya. Ketiga, mengadopsi mata uang tunggal dan membentuk sistem moneter bersama.Menurut Rumbaugh, untuk membentuk kerjasama kurs regional, Asia Timur perlu memiliki sebuah kerangka kerjasama terlebih dahulu. Hanya saja, tantangannya adalah bagaimana membuat setiap negara bersedia menyepakati kerangka kerjasama dan berpegang teguh pada kerangka tersebut. Menyepakati sebuah kerangka artinya perlu menyerahkan kedaulatan negara untuk suatu kebijakan nilai tukar. Sulit bagi banyak negara untuk menerima hal tersebut, tegasnya.Selain itu, lanjut Rumbaugh, perlu ada pemahaman bersama mengenai nilai ekuilibrium yang luas dari mata uang masing-masing. Melakukan semua hal ini merupakan tantangan ekonomi dan diplomatik yang besar.Masih perlu waktu cukup lama untuk menciptakan suatu kerangka kerjasama nilai tukar. Pendirian unit surveillance AMRO [Asean+3 Macroeconomic Reasearch Office] bisa jadi langkah penting. Perkembangan lebih jauh [kerjasama nilai tukar] tidak mungkin terjadi hingga unit AMRO terbentuk dan beroperasi.Ulrich Volz, Senior Economist German Development Institute, dalam bukunya berjudul Prospects for Monetary Cooperation and Integration in East Asia yang dipublikasikan pada Mei 2010 mengusulkan sebuah strategi menuju kerjasama nilai tukar di Asia Timur.Strategi itu menyarankan semua negara di kawasan tersebut mulai menerapkan sistem kurs mengambang yang terkendali dengan berpatokan pada keranjang mata uang regional, di mana unit mata uang Asia nilainya dibuat hampir paralel dengan mata uang lokal masing-masing. (mrp)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup