Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi RI Stagnan atau Mundur?

Sektor komoditas masih menjadi tumpuan perekonomian Indonesia. Data-data statistik mengonfirmasi hal itu.
Warga beraktivitas dengan latar suasana gedung perkantoran di Jakarta, Rabu (2/8/2023). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2023 akan terjaga di level 5 persen, seiring dengan perkembangan yang positif. JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga beraktivitas dengan latar suasana gedung perkantoran di Jakarta, Rabu (2/8/2023). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2023 akan terjaga di level 5 persen, seiring dengan perkembangan yang positif. JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja ekonomi Indonesia stagnan di angka 5 persen. Tidak pernah mampu menyentuh angka 6 persen sejak 2014 lalu. Padahal untuk menggapai cita-cita menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa dikerek ke angka 7 persen.

Namun demikian, untuk tumbuh di angka 6 atau 7 persen, dibutuhkan struktur ekonomi yang kuat. Persoalannya, sampai dengan saat ini, struktur ekonomi Indonesia masih belum beranjak alias stagnan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan adanya gejala 'penurunan' dalam struktur ekonomi Indonesia.

Salah satu pemicu kerentanan struktur ekonomi Indonesia adalah ketergantungan terhadap sektor komoditas yang masih tinggi. Di sisi lain, upaya pemerintah untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur ke PDB belum sepenuhnya sesuai ekspektasi. 

Tahun 2014 lalu misalnya, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih berada di angka 21 persen. Sementara tahun 2022, kinerja manufaktur di PDB justru hanya mampu berkontribusi sebanyak 18,34 persen.

Sebaliknya kinerja sektor pertambangan yang pada tahun 2014 sebanyak 9,04 persen. Pada tahun 2022 lalu, mampu menembus angka 12,22 persen. Angka ini melonjak cukup signifikan dibandingkan tahun 2014.

Secara teoritis, kondisi di atas menunjukan bahwa Indonesia belum mampu lepas dari 'penyakit Belanda'. Ketergantungan terhadap komoditas sangat tinggi bahkan menggerus peran sektor manufaktur dalam struktur PDB Indonesia.

Meskipun, kalau merujuk pada data-data faktual, naiknya kontribusi sektor pertambangan itu tidak lepas dari fluktuasi harga komoditas. Kebetulan tahun 2022, harga komoditas naik signifikan dan Indonesia sebagai eksportir barang yang mengeruk dari alam ketiban rejeki nomplok. Ini terkonfirmasi dari data struktur PDB maupun pendapatan yang masuk ke kantong negara.

Ilustrasinya, ketika permintaan komoditas di pasar global tinggi, ekonomi Indonesia biasanya akan naik bahkan mendekati ekspektasi pemerintah. Sebaliknya ketika permintaan turun, ekonomi RI ikut berdarah-darah.

Kinerja ekonomi tahun 2010-2015 menjadi contoh betapa rapuhnya struktur ekonomi Indonesia. Pada tahun 2010 Indonesia mengalami booming komoditas, ekonomi RI mampu tumbuh di angka 6,1 persen. Tahun 2011 angkanya bahkan mencapai 6,5 persen.

Tahun 2012, kendati ekonomi RI tetap di atas 6 persen, ada penurunan menjadi 6,2 persen. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2013 yang hanya tersisa di angka 5,78 persen. Pada tahun 2014 ekonomi melambat menjadi 5,02 persen dan pada tahun 2015 anjlok ke angka 4,79 persen.

Tren penurunan kinerja ekonomi tersebut selain dipengaruhi oleh anjloknya ekonomi China yang menurut data Bank Dunia turun dari 10,6 persen pada tahun 2010 menjadi 7 persen pada 2015, juga disebabkan oleh anjloknya harga komoditas sejak tahun 2013 yang menurut catatan Bisnis angkanya mencapai 8,8 persen.

Efek penurunan harga komoditas itu berantai mulai dari APBN, ekspor, pertumbuhan ekonomi hingga kinerja transaksi berjalan yang mengalami defisit hingga 3 persen dari PDB. Pada 2014, Indonesia mencatatkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang tinggi, yaitu sebesar US$27,5 miliar. Sementara itu, neraca dagang Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$2,2 miliar.

Akibat penurunan kinerja ekonomi tersebut, Indonesia pada waktu itu pernah masuk dalam fragile five country.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Edi Suwiknyo
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper