Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kinerja Ekonomi Indonesia Membaik? Eiittsss... Tunggu Dulu

Kinerja ekonomi memang terus membaik namun struktur produk domestik bruto (PDB) Indonesia justru semakin rapuh.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 10 November 2022  |  05:32 WIB
Kinerja Ekonomi Indonesia Membaik? Eiittsss... Tunggu Dulu
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 tumbuh cukup tinggi. Ketika global sedang dibayangi resesi, ekonomi Indonesia justru berhasil tumbuh di angka 5,72 persen (y-on-y).

Kendati demikian, angka ini relatif rendah dari konsensus ekonom yang sebelumnya meramalkan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5,81 persen.

Selain itu, dari sisi struktur, kinerja ekonomi Indonesia selama kuartal III/2022 juga menunjukkan hasil yang kurang ideal.

Kontribusi sektor manufaktur terus tergerus. BPS mencatat kontribusi sektor ini ke produk domestik bruto (PDB) hanya sebesar 17,88 persen. Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal II/2022 yang hanya 17,84 persen.

Namun jika dibandingkan dengan kuartal III/2021 yang mencapai angka 19,15 persen, jelas kontribusi sektor tersebut terus tergerus. Angka itu juga anjlok dibandingkan kuartal III/2020 yang mencapai 19,86 persen, atau kuartal III/2019 yang mencapai 19,62 persen.

Nasib kontribusi daya beli masyarakat juga kurang lebih sama. Data daya beli tercermin dari kontribusi konsumsi rumah ke PDB yang juga tercatat mengalami penurunan. Kontribusi konsumsi rumah selama kuartal III/2022 hanya mencapai 50,38 persen. Angka ini terus turun dibandingkan dengan kuartal III/2021 yang mencapai 53,09 persen.

Secara historis, tren tersebut merupakan kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada kuartal III/2020 misalnya konsumsi rumah tangga masih berkontribusi di angka 57,3 persen atau kuartal III/2019 sebanyak 56,52 persen.

Perubahan struktur tersebut merupakan imbas dari kinerja sektor komoditas yang memang melonjak signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kinerja sektor komoditas kemudian memengaruhi kinerja ekspor barang dan jasa yang pada kuartal tersebut mampu tumbuh di angka 26,23 persen. 

Padahal jika mengacu realisasi ekspor sebelum pandemi, paling besar kontribusi ekspor pada kuartal 3 tahun-tahun sebelumnya kurang dari 22 persen. Bahkan jika mengecualikan tahun 2018 yang juga terjadi booming komoditas, kontribusinya di bawah 20 persen.

Itu artinya, pemulihan ekonomi yang terjadi pada saat ini masih semu karena dikatrol oleh komoditas dan sektor-sektor yang tidak berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi manufaktur
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top