Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rusia-Ukraina Bertemu di Istanbul, Menlu Rusia Sergey Lavrov: Itu Hanya Simbolis!

Rusia siap menghadiri pertemuan dengan Ukraina yang dimediasi PBB di Istanbul. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa itu hanya simbolis.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov seusai penandatanganan dokumen kerja sama Rencana Konsultasi Kemenlu RI-Kemenlu Federasi Rusia Tahun 2017-2019 di Gedung Pancasila, Jakarta, 9 Agustus 2017./Antara
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov seusai penandatanganan dokumen kerja sama Rencana Konsultasi Kemenlu RI-Kemenlu Federasi Rusia Tahun 2017-2019 di Gedung Pancasila, Jakarta, 9 Agustus 2017./Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Rusia siap menghadiri pertemuan dengan Ukraina yang dimediasi PBB di Istanbul. Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa itu hanya simbolis semata. Pasalnya, pertemuan tersebut hanya untuk menyelesaikan masalah ekspor gandum dan biji-bijian dari Ukraina saja.

Hal itu disampaikan Lavrov dalam pembicaraannya bersama Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

"Tentang pertemuan tambahan di Istanbul (mengenai masalah ekspor biji-bijian), kami siap untuk pertemuan semacam itu. Kami menghargai minat PBB untuk terlibat dalam beberapa cara, menandai kehadirannya, tetapi, sejujurnya, itu hanya simbolis," kata Lavrov, dikutip dari Tass, Kamis (9/6/2022).

Dia menegaskan, merupakan tanggung jawab Ukraina untuk melanjutkan kembali ekspor gandum dengan membersihkan ranjau di pelabuhan-pelabuhannya.

Tidak ada tindakan yang harus dilakukan oleh Rusia karena Moskow telah membuat komitmen yang diperlukan.

“Kami menyatakan setiap hari bahwa kami siap untuk menjamin keselamatan kapal yang meninggalkan pelabuhan Ukraina dan menuju teluk (Bosphorus), kami siap untuk melakukan itu dalam kerja sama dengan mitra Turki kami,” kata dia setelah pertemuan dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu di Ankara, Rabu (8/6/2022), dikutip dari Antara.

"Untuk memecahkan masalah, satu-satunya hal yang diperlukan adalah agar Ukraina membiarkan kapal-kapal keluar dari pelabuhan-pelabuhan mereka, baik dengan menjinakkan ranjau atau dengan membuat batas koridor yang aman," ujar Lavrov, melanjutkan.

Ukraina, salah satu pengekspor gandum terbesar di dunia, dan negara-negara Barat menuduh Rusia menciptakan ancaman kelaparan global dengan menutup pelabuhan-pelabuhan Ukraina yang berada di Laut Hitam.

Di lain pihak, Moskow menyangkal bertanggung jawab atas krisis pangan internasional dan justru menyalahkan sanksi Barat.

Lavrov mengatakan masalah utamanya adalah bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy "dengan tegas menolak" untuk menyelesaikan masalah pelabuhan yang dipenuhi ranjau.

"Jika mereka sekarang telah mengubah posisi mereka, maka di pihak kami tidak ada masalah, mari kita lihat bagaimana kesepakatan awal yang kita diskusikan kemarin dan hari ini dapat dipraktikkan," kata dia.

Lavrov mengatakan dirinya menghargai upaya Turki dalam mencari cara untuk menyelesaikan situasi tersebut.

Dia mengatakan "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina berjalan sesuai rencana.

Pembicaraan damai perlu dilanjutkan, kata Lavrov, sebelum ada kemungkinan pembicaraan antara Presiden Vladimir Putin dan Zelenskyy.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper