Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Media Rusia Ungkap Ada Lab Biologis 'Rahasia' AS di Jakarta

Media Rusia, Sputnik, menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki laboratorium biologis di Indonesia, yang terletak di Jakarta.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  15:39 WIB
Media Rusia Ungkap Ada Lab Biologis 'Rahasia' AS di Jakarta
Seorang pria berjalan di samping logo Namru-2 di laboratorium milik Kedubes AS tersebut di Jakarta, Rabu (18/6/2008). Sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 tidak lagi beroperasi di Indonesia. - Antara - Andika Wahyu.

Bisnis.com, JAKARTA - Media Rusia, Sputnik, mengabarkan bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki laboratorium biologis di Indonesia, yang terletak di Jalan Percetakan Negara, Rawamangun, Jakarta Timur.

Berita yang dirilis pada Kamis (25/5/2022) ini muncul di tengah upaya Rusia menyelidiki penelitian biologi AS di Ukraina. Pemerintah Rusia mengungkapkan bahwa tentaranya menemukan lab biologis dalam serangan di Ukraina.

Dari penelusuran Bisnis, lab yang dimaksud oleh media Rusia tersebut terletak di gedung Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II Jurusan Farmasi.

Sputnik mengungkapkan bahwa gedung tersebut menjadi lab dari NAMRU-2 – fasilitas bioresearch angkatan laut Amerika di mana patogen dan virus berbahaya disimpan dan digunakan.

NAMRU-2 sendiri sempat berada di Jakarta dari 1970 hingga 2009, sebelum kegiatan mereka dilarang oleh Kementerian Kesehatan negara itu karena dianggap ancaman terhadap kedaulatan Indonesia.

"Unit Penelitian Medis Angkatan Laut AS [US Naval Medical Research Unit /NAMRU] berpusat di Guam di bawah yayasan Rockefeller. Unit itu didirikan pada tahun 1955, sedangkan detasemen NAMRU-2 di Jakarta telah dibuka pada tahun 1970, untuk mempelajari penyakit menular yang berpotensi signifikansi militer di Asia,” tulis Sputnik.

Media pemerintah Rusia tersebut pun mewawancarai mantan menteri kesehatan pada periode 2004-2009 Siti Fadilah Supari. Menurut Dr Siti Fadilah Supari, kemanjuran keseluruhan penelitian Amerika dipertanyakan.

“Meskipun mereka fokus pada malaria dan tuberkulosis, hasilnya selama 40 tahun di Indonesia tidak signifikan”, kata Dr Supari.

Dia menambahkan bahwa perjanjian antara Indonesia dan AS tentang pendirian laboratorium berakhir pada 1980 - dan kemudian setelah itu mereka tidak memiliki hak kewarganegaraan.

Dr Supari juga menyebutkan kurangnya keterlibatan yang setara dari staf Indonesia dalam proyek NAMRU-2 sebagai alasan lain yang perlu dikhawatirkan.

Pada Mei ini, Departemen Luar Negeri AS telah merilis laporan resmi Global Engagement Center (GEC) berjudul Kampanye Disinformasi Senjata Kimia Kremlin.

Dalam laporannya, Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa Rusia telah melakukan penyebaran tuduhan yang tidak berdasar bahwa Amerika Serikat (AS) dan Ukraina melakukan kegiatan senjata kimia dan biologi di Ukraina.

Ini adalah bagian dari taktik disinformasi Rusia yang sudah sering dilakukan. "Kremlin memiliki rekam jejak yang panjang dalam menuduh orang lain atas pelanggaran yang mereka lakukan. Amerika Serikat tidak memiliki atau mengoperasikan laboratorium kimia atau biologi di Ukraina dan sepenuhnya mematuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi Senjata Kimia [CWC] dan Konvensi Senjata Biologis [BWC]," tegas laporan tersebut.

Faktanya, laporan GEC menyebutkan bahwa Rusia yang memiliki program senjata kimia dan biologi aktif dan melanggar kewajiban internasionalnya.

Sama seperti selama perang pilihan Putin melawan Ukraina, pemerintah Rusia menyebarkan disinformasi untuk melindungi sekutu Suriah dari pertanggungjawaban setelah rezim Assad berulang kali menggunakan senjata kimia, termasuk serangan gas sarin pada 2017 terhadap warga Suriah di Khan Shaykhun.

Sementara itu, Kedutaan Besar Indonesia hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Rusia laboratorium
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top