Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gertak Balik AS! China Kerahkan Militernya di Dekat Taiwan

Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China mengatakan bahwa pihaknya baru-baru ini melakukan patroli dan latihan di wilayah udara dan laut di sekitar Taiwan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 26 Mei 2022  |  09:34 WIB
Ilustrasi-Kapal perusak radar milik Angkatan Laut China Hull 568 saat menjalani misi latihan tempur di Laut China Selatan, 18 Juni 2020./ANTARA - HO/ChinaMilitary\r\n\r\n
Ilustrasi-Kapal perusak radar milik Angkatan Laut China Hull 568 saat menjalani misi latihan tempur di Laut China Selatan, 18 Juni 2020./ANTARA - HO/ChinaMilitary\\r\\n\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA--Militer China mengakui bahwa latihan militer yang diadakan di sekitar Taiwan sebagai "peringatan serius" terhadap "hubungan" negara itu dengan Amerika Serikat, menurut media pemerintah China.

Sebelumnya Presiden AS Joe Biden membuat marah China pada hari Senin dengan mengatakan Amerika Serikat akan terlibat secara militer jika China ingin menyerang pulau itu. Namun dia mengatakan pada hari Selasa bahwa tidak ada perubahan pada kebijakan AS.

Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China mengatakan bahwa pihaknya baru-baru ini melakukan patroli dan latihan di wilayah udara dan laut di sekitar Taiwan.

"Ini adalah peringatan serius terhadap kolusi baru-baru ini antara Amerika Serikat dan Taiwan," kata juru bicara komando itu, Shi Yi, menurut televisi pemerintah. Sangat munafik dan sia-sia bagi Amerika Serikat untuk mengatakan satu hal dan melakukan hal lain tentang masalah Taiwan, katanya seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (26/5).

Biden mengatakan tidak ada perubahan pada kebijakan 'ambiguitas strategis' negaranya atas Taiwan saat melakukan pembicaraan pada pertemuan aliansi pertahanan Quad di Jepang.

Biden mengatakan dia akan bersedia menggunakan kekuatan untuk membela Taiwan melawan China. Sedangkan China tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan militer untuk membawa Taiwan kembali  menjadi bagian dari negaranya. Karena itu Selat Taiwan tetap menjadi titik nyala militer potensial.

Meskipun Amerika Serikat mematuhi kebijakan "satu China" dan hanya mengakui Beijing, namun negara itu  telah membuat komitmen di bawah Undang-Undang Hubungan Taiwan "untuk membantu menyediakan sarana bagi Taiwan untuk mempertahankan diri".

Akan tetapi, meskipun demikian, AS telah lama memegang kebijakan untuk tidak merinci bagaimana reaksinya jika terjadi serangan China di pulau itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat taiwan
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top