Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lebaran 2022 Jatuh pada Tanggal? Ini Versi Pemerintah, Muhammadiyah dan NU

Pemerintah dan NU memiliki metode perhitungan yang berbeda dengan Muhammadiyah dalam penetapan 1 Syawal 1443 H atau Idulfitri 2022.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 30 April 2022  |  14:00 WIB
Ilustrasi salat Idulfitri - Antara
Ilustrasi salat Idulfitri - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Hari Raya Idulfitri atau Lebaran 2022 tinggal menghitung hari. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki metode perhitungan yang berbeda dengan Muhammadiyah. Lalu kapan umat Islam merayakan hari kemenangan?

Muhammaddiyah sudah sejak jauh hari menetapkan Lebaran 2022 atau 1 Syawal 1443 H jatuh pada tanggal 2 Mei 2022. Hal tersebut bisa terjadi karena mereka menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Dikutip laman resmi Muhammadiyah, penetapan 1 Syawal 1443 H menggunakan hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal. Artinya, matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan walaupun hanya berjarak satu menit atau kurang.

“Ide ini berasal dari pakar falak Muhammadiyah Wardan Diponingrat yang tidak hanya dipahami berdasarkan pada Quran Surat Yasin ayat 39-40, melainkan juga menggunakan perangkat lain seperti hadis dan konsep fikih lainnya serta dibantu ilmu astronomi,” tulis Muhammadiyah.

Kapan Lebaran 2022?

Sementara itu, pemerintah dan NU menentukan 1 Syawal dengan pemantauan hilal dan sidang isbat (rukyatul hilal dan hisab) atau metode rukyat besok, Minggu, (1/5/2022).

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan bahwa secara hisab, posisi hilal saat sidang sudah memenuhi kriteria baru Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

“Di Indonesia, pada 29 Ramadan 1443 H yang bertepatan dengan 1 Mei 2022 tinggi hilal antara 4 derajat 0,59 menit sampai 5 derajat 33,57 menit dengan sudut elongasi antara 4,89 derajat sampai 6,4 derajat,” kata Kamaruddin melalui keterangan pers, Senin (25/4/2022).

Artinya, Kamaruddin menjelaskan bahwa secara hisab, pada hari tersebut posisi hilal awal Syawal di Indonesia telah masuk dalam kriteria baru MABIMS.

Menurut kriteria baru MABIMS, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Kriteria ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat yang mendapat masukan dan kritik.

Pemerintah Indonesia, tambah Kamaruddin, akan menyelenggarakan sidang isbat dengan menggunakan metode hisab dan rukyat. Maksudnya adalah posisi hilal Syawal akan dipresentasikan oleh Tim Unifikasi Kalender Hijriyah yang selanjutnya menunggu laporan rukyat dari seluruh Indonesia.

"Rukyat digunakan sebagai konfirmasi terhadap hisab dan kriteria yang digunakan. Kedua hal yaitu hisab dan konfirmasi pelaksanaan rukyatul hilal akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk selanjutnya diambil keputusan awal Syawal 1443 H," jelasnya.

Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar ini juga menyampaikan penjelasan tersebut dalam pertemuan pakar falak MABIMS yang berlangsung secara daring pada Kamis, (21/4/2022).

Dalam pertemuan tersebut, Kamaruddin menyampaikan bahwa penerapan kriteria baru MABIMS diharapkan memunculkan formulasi dan gagasan yang bermanfaat bagi umat Islam di negara-negara anggota MABIMS.

“Kita perlu menciptakan suasana yang kondusif bagi umat Islam, khususnya di bidang hisab rukyat. Kami berharap, forum ini bisa menghasilkan ide-ide yang cemerlang untuk mendukung kemajuan hisab rukyat di dunia Islam secara umum,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

muhammadiyah lebaran 1 syawal idulfitri nahdlatul ulama sidang isbat
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top