Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Putin Siagakan Senjata Nuklir, Uni Eropa Siap Bantu Ukraina

Vladimir Putin memerintahkan militernya untuk menempatkan pasukan pertahanan nuklir Rusia dalam siaga tinggi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Februari 2022  |  08:07 WIB
Seorang warga menonton siaran langsung Vladimir Putin, Presiden Rusia, saat menyampaikan pidato, di Moskwa, Rusia, Senin (22/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk
Seorang warga menonton siaran langsung Vladimir Putin, Presiden Rusia, saat menyampaikan pidato, di Moskwa, Rusia, Senin (22/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA -- Vladimir Putin memerintahkan militernya untuk menempatkan pasukan pertahanan nuklir Rusia dalam siaga tinggi sebagai sinyal terbaru bahwa dia siap untuk menggunakan tingkat paling ekstrim untuk mencapai kemenangan di Ukraina secepatnya.

Menanggapi hal itu, AS menuduh Putin melakukan eskalasi yang "benar-benar tidak dapat diterima" dan menjelaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung Ukraina dan akan menjatuhkan tindakan hukuman terhadap Rusia. Melansir dari The Guardian, Uni Eropa pun juga mengumumkan langkah-langkah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Moskow.

Serangan Putin di Ukraina telah gagal menghasilkan kemenangan cepat yang diperkirakannya, tetapi malah mengumpulkan tanggapan negara Barat bersama yang berpotensi menghancurkan ekonomi Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengumumkan bahwa delegasi dari Kyiv akan bertemu dengan pejabat Rusia tanpa prasyarat di perbatasan negaranya dengan Belarusia. Akan tetapi tidak jelas bahwa Putin siap untuk mengadakan pembicaraan yang tidak melibatkan pemenuhan tuntutannya atas Ukraina.

"Saya tidak terlalu percaya dengan hasil pertemuan ini, tetapi biarkan mereka mencoba, sehingga nantinya tidak ada satu pun warga Ukraina yang ragu bahwa saya, sebagai presiden, mencoba menghentikan perang," kata Zelenskiy seperti dikutip TheGuardian.com, Senin (28/2).

Dengan tidak adanya terobosan militer yang cepat, Putin mengisyaratkan bahwa dia siap untuk meningkatkan serangannya di Ukraina, sambil mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan secara eksplisit mengacungkan senjata nuklir Rusia dalam upaya untuk mencegah dukungan Barat untuk Ukraina.

Uni Eropa mengumumkan akan mendanai pasokan senjata ke angkatan bersenjata Ukraina, memblokir wilayah udara Eropa untuk semua pesawat Rusia termasuk jet pribadi oligarki, dan melarang saluran propaganda Kremlin RT, dan kantor beritanya, Sputnik.

BP mengumumkan akan melepaskan hampir 20 persen sahamnya di perusahaan minyak Rusia Rosneft, sedangkan Turki menyatakan bahwa mereka akan menutup selat Bosphorus dan Dardanelles untuk angkatan laut Rusia, menghentikan kapal-kapalnya yang bergerak antara Mediterania dan Laut Hitam.

Swedia akan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina, termasuk senjata anti-tank, helm dan pelindung tubuh, kata perdana menterinya, Magdalena Andersson, Minggu.

Perintah menyiapkan senjata nuklir dari Putin keluar pada pertemuan antara presiden, menteri pertahanan, Sergei Shoigu dan kepala staf umum angkatan bersenjata Rusia, Valery Gerasimov.

“Pejabat senior dari negara-negara NATO terkemuka juga mengizinkan pernyataan perang terhadap negara kita, oleh karena itu saya memerintahkan menteri pertahanan dan kepala staf umum [angkatan bersenjata Rusia] untuk mentransfer pasukan pertahanan nuklir ke mode khusus untuk tugas tempur,”kata Putin dalam komentar yang disiarkan televisi.

Negara-negara Barat tidak hanya mengambil tindakan tidak bersahabat terhadap negara kita di bidang ekonomi, tetapi para pejabat tinggi dari anggota NATO terkemuka telah membuat pernyataan perang atas negara kita, katanya.

Sekjen NATO, Jens Stoltenberg mengatakan itu adalah retorika yang berbahaya karena perilaku yang tidak bertanggung jawab.

“Putin telah mengatakan kepada negara-negara asing untuk tidak ikut campur dalam invasinya ke Ukraina, dengan mengatakan langkah itu dapat menyebabkan "konsekuensi yang belum pernah mereka lihat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nato perang nuklir Rusia Ukraina
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top