Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wapres Ma'ruf Amin: Indonesia Tidak Bisa Jadi Negara Khilafah

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menerapkan sistem khilafah. Karena Indonesia sudah punya Pancasila sebagai bentuk konsensus bersama.
Setyo Puji Santoso
Setyo Puji Santoso - Bisnis.com 04 Januari 2022  |  13:48 WIB
Wapres KH Ma'ruf Amin. (kanan). - Antara
Wapres KH Ma'ruf Amin. (kanan). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa peradaban di Indonesia banyak menjadi rujukan negara lain.

Hal itu disampaikannya saat berbincang dalam siaran podcast bersama Deddy Corbuzier yang ditayangkan pada Selasa (4/1/2022).

Diceritakan Ma'ruf, ada salah seorang perwakilan dari Mesir datang ke Indonesia untuk belajar tentang toleransi. Sebab, mereka kagum dengan budaya toleransi yang ada di Indonesia.

"Jadi sekarang ini bukan zamannya bahasa Arab diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tapi bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab tentang tradisi dan tatanan kehidupan yang toleran," jelasnya.

Menurut Ma'ruf, budaya toleransi di Indonesia bisa terbangun karena adanya sebuah kesepakatan, yaitu melalui Pancasila. Dan hal itu banyak dikagumi oleh negara-negara lain. Sebab, menyatukan beragam perbedaan untuk hidup bersama menjadi sebuah negara bangsa bukan perkara mudah.

"Mereka kagum, tapi kita kadang ga merasa," terangnya.

Oleh karena itu, Ma'ruf menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menggunakan sistem khilafah seperti yang coba digembar-gemborkan sekelompok orang.

Alasannya karena sudah punya kesepakatan melalui dasar negara, yaitu Pancasila. Bahkan, ia menyebut di zaman Nabi Muhammad SAW juga pernah menerapkan sebuah kesepakatan saat di Madinah.

"Nabi dulu juga membikin kesepakatan di Madinah untuk saling bekerjasama dengan nonmuslim. Untuk tidak mengganggu dan saling hidup berdampingan secara damai," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa teror dengan mengatasnamakan jihad merupakan tafsir yang salah. Sebab, jihad itu memperjuangan kebaikan dan kemanfaatan. Sedangkan teror adalah sebaliknya, yaitu merusak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wapres ma'ruf amin
Editor : Setyo Puji Santoso

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top