Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hari AntiKorupsi Sedunia dan Vonis Hukuman Mati Heru Hidayat

Hari Antikorupsi Sedunia diperingati untuk mengakhiri dampak buruk korupsi. Rasuah di Indonesia dianggap kian mengkhawatirkan.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  10:25 WIB
Terdakwa Komisaris Utama PT Trada Alam Minera (TRAM) Heru Hidayat (kedua kiri) didampingi kuasa hukumnya mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Rabu (1/7/2020). Sidang beragenda mendengarkan keterangan lima orang saksi yang dihadirkan JPU dari Kejaksaan Agung, salah satunya Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko. ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso
Terdakwa Komisaris Utama PT Trada Alam Minera (TRAM) Heru Hidayat (kedua kiri) didampingi kuasa hukumnya mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Rabu (1/7/2020). Sidang beragenda mendengarkan keterangan lima orang saksi yang dihadirkan JPU dari Kejaksaan Agung, salah satunya Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko. ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh hari ini, Kamis (9/12/2021) dirayakan seluruh masyarakat di Bumi. Latar belakang momen ini adalah untuk mengakhiri dampak buruk korupsi. Rasuah di Indonesia dianggap kian mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, baru-baru ini tersangka kasus korupsi PT Asabri Heru Hidayat dituntut hukuman mati.

Jaksa penuntut umum menuntut majelis hakim menjatuhkan hukuman mati terhadap bos PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat. Dia dinilai terbukti terlibat dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan dan investasi PT Asabri (Persero) yang merugikan negara Rp22,7 triliun.

Selain dituntut hukuman mati, Heru Hidayat juga diwajibkan membayar pidana pengganti sebesar Rp12,643 triliun.

Meski ada koruptor yang dituntut dengan hukuman mati, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo mengatakan bahwa pemberantasan korupsi kian mendekati titik nadir.

Cabang-cabang kekuasaan negara semakin terintegrasi dengan kekuatan oligarki untuk menguasai sumber daya publik dengan cara yang lancung. Kemampuan untuk meruntuhkan sistem penegakan hukum terjadi di berbagai bidang.

Bahkan di saat negara sedang krisis karena Covid-19, ini dimanfaatkan sejumlah elite politik yang bermain dengan pelaku bisnis untuk meraup keuntungan.

“Apa yang telah dijanjikan oleh pemerintah untuk memperkuat pemberantasan korupsi tidak terwujud. Sebaliknya, masyarakat terus menjadi korban atas kejahatan korupsi,” katanya, Kamis (9/12/2021).

Adnan menjelaskan, bahwa sejumlah survei terbaru yang telah dirilis berbagai lembaga menggambarkan situasi pemberantasan korupsi di Indonesia semakin mengkhawatirkan.

Indeks Perilaku Antikorupsi 2021 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, misalnya. Temuannya menunjukkan adanya peningkatan praktik suap-menyuap yang dilakukan masyarakat saat mengakses pelayanan publik.

Menurutnya, temuan tersebut bukan hal mengejutkan. Sebab, satu tahun terakhir masyarakat dapat secara jelas melihat agenda pemberantasan korupsi semakin dikesampingkan negara.

Dari aspek penegakan hukum, Adnan melihat kebijakan atau keputusan yang diambil justru semakin tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi yang sungguh.

Misalnya, putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak pengujian materi UU KPK. Lalu, penghapusan syarat memperketat remisi bagi pelaku korupsi oleh Mahkamah Agung hingga vonis ringan atas kasus korupsi yang melibatkan pejabat politik.

Pada saat yang sama, agenda penguatan KPK sebagaimana disampaikan Presiden Joko Widodo jauh panggang dari api.

Kebijakan politik revisi UU KPK, terpilihnya komisioner KPK bermasalah, sampai pemecatan puluhan pegawai lembaga antirasuah mencerminkan bukti pelemahan antikorupsi di Indonesia.

Oleh karena itu, ICW memandang momentum Hari Antikorupsi Dunia patut dirayakan dengan kesedihan. Di saat yang sama, masyarakat perlu sadar bahwa menyandarkan harapan tinggi pada negara untuk memberantas korupsi akan jatuh pada mimpi belaka.

“Karena korupsi selalu mengorbankan kita sebagai warga masyarakat. Momentum hari Antikorupsi Dunia ini dapat menjadi titik balik perlawanan masyarakat terhadap korupsi. Mari perkuat suara kita, mari kita perkuat peran kita untuk melawan korupsi,” jelas Adnan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hukuman mati hari anti korupsi
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top