Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Puasa Dawud, Tata Cara dan Keutamaannya

Berikut ini tata cara dan keutamaan menjalankan puasa Dawud bagi umat Islam.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Oktober 2021  |  10:24 WIB
Ilustrasi puasa - Istimewa
Ilustrasi puasa - Istimewa

Bisnis.com, SOLO - Banyak amalan yang dapat dilakukan umat Islam untuk mendapatkan tambahan pahala.

Salah satunya yaitu dengan menjalankan puasa Dawud.

Dilansir dari laman NU, puasa Dawud merupakan puasa yang dilakukan dengan waktu selang-seling, yaitu satu hari puasa dan satu hari tidak.

Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili (w. 2015 M), ulama sepakat bahwa hukum puasa Dawud adalah sunnah. Artinya, jika dilakukan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya tidak mendapat dosa

Adapun tata cara melakukan puasa Dawud seperti puasa pada umumnya, yaitu mulai dari terbit fajar samapi terbenamnya matahari.

Sedangkan pelaksanaan puasa Dawud bisa kapan saja, kecuali pada hari-hari yang diharamkan puasa, seperti hari raya idul Fitri, Idul Adha, tasyrik dan lainnya.

Keutamaan Puasa Dawud

1. Puasa yang disukai Allah

Menurut HR Al-Bukhari dan Muslim, puasa nabi Dawud merupakan puasa sunnah yang paling disukai oleh Allah SWT.

Hal itu seperti yang disabdakan Rasulullah yang berbunyi:

Innaaqbaziyami ilallahi ziyamu dawuda waaqabba zholati ilallahi sholatu dawuda alaihissalam kana yananmu nisfa laili wa yahkumu shulusahu wayanamu shudusahu wakana yazumu yauman wayafthiru yauman.

Artinya: Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

2. Wujud kasih sayang Islam pada umatnya 

Para sahabat Nabi terkenal sebagai orang yang memiliki semangat ibadah sangat tinggi. 

Namun, terkadang semangat tersebut kebablasan dan mengabaikan hak-hak manusiawi pada umumnya, sehingga ibadah terkesan membebani. 

Islam sebagai agama rahmah (kasih sayang), tidak ingin pemeluknya terbebani dengan ibadah-ibadah yang dilakukan umatnya. 

Suatu ketika seorang seorang sahabat bernama ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dipergoki oleh Nabi berpuasa setiap hari, dan malam-malamnya ia gunakan hanya untuk shalat. 

Nabi pun menginterogasinya, “Wahai 'Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?" “Benar wahai Rasulullah,” aku ‘Abdullah. 

“Janganlah kamu lakukan itu, tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya,” tegur Nabi. 

‘Abdullah meminta tambahan, ia merasa lebih kuat dari sekadar berpuasa tiga hari dalam setiap satu bulan. Lantas, Nabi menyuruhnya melakukan puasa Dawud, dengan satu hari berpuasa dan satu hari tidak.

3. Puasa sunnah paling utama

Jika dibandingkan dengan puasa lainnya, puasa Dawud juga dianggap lebih utama dibanding dengan puasa sunnah lainnya.

Alasan mengapa puasa Dawud merupakan puasa yang paling utama adalah karena seorang yang melakukan puasa Dawud akan melakukan apa yang disenanginya satu hari dan berpisah pada satu hari berikutnya. 

Hal itu seperti yang diungkapkan Syekh ‘Abdurra’uf al-Munawi (w. 1621) dalam kitab Faidhul Qadir.

Bahkan, jika seandainya puasa Dawud dibandingkan dengan puasa setiap hari, maka puasa Dawud lebih utama. 

Alasannya, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali, orang yang berpuasa setiap hari tidak akan merasakan begitu berat karena sudah terbiasa di tiap harinya. 

Sementara puasa Dawud yang dilakukan selang-seling, akan mengalami naik turun syahwat dan kondisi tubuh yang tidak stabil karena satu hari puasa dan satu hari tidak (Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarah Jami’ ash-Shaghir, juz 1, hal. 171).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Puasa

Sumber : NU.or.id

Editor : Setyo Puji Santoso

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top