Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Agoes Omar, Orang Indonesia Pertama Berlari 250 Km di Gurun Sahara

Agoes Omar merupakan pelari asal Indonesia pertama yang mampu menyelesaikan lomba lari ultramarathon Marathon de Sables di Gurun Sahara.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 13 Oktober 2021  |  11:27 WIB
Agoes Omar, Orang Indonesia Pertama Berlari 250 Km di Gurun Sahara
Pelari ultra marathon asal Indonesia Agoes Omar mendedikasikan keikusertaanya berlari sejauh250 kilometer di Gurun Sahara pada kegiatan Marathon des Sables 2021 untuk menggalang dana dalam membantu anak yatim piatu di SOS Children's Villages Indonesia / Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelari ultra marathon asal Indonesia Agoes Omar mendedikasikan keikusertaanya berlari sejauh 250 kilometer di Gurun Sahara pada kegiatan Marathon des Sables 2021 untuk menggalang dana dalam membantu anak yatim piatu di SOS Children’s Villages Indonesia agar dapat bertahan melewati pandemi Covid-19.

Sekadar informasi, Omar mampu menyelesaikan lomba lari ultramarathon Marathon de Sables. Dengan menempuh jarak total mencapai 254 kilometer dan melintasi Gurun Sahara, Marathon de Sables dikenal sebagai lomba lari paling berat di dunia. Dia diketahui sebagai orang Indonesia pertama yang berlari 

Adapun, Bisnis mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai pelari ultra marathon tersebut. Dia mengatakan, tantangan di lomba Marathon de Sables tidak main-main.

Penyebabnya, berlokasi di Gurun Sahara, para peserta Marathon de Sables dihadapkan dengan berbagai tantangan fisik dan mental, mulai dari kelelahan, dehidrasi, hingga luka melepuh di bagian kaki.

“Tantangan lainnya, selama 6 hari lomba berjalan saya harus memenuhi keperluan pribadi mulai dari sleeping bag, makanan, peralatan medis, dan pompa untuk mengeluarkan bisa apabila saya digigit ular atau kalajengking itu harus dibawa di tas seberat 10,5 kg,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (13/10/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa panitia lomba hanya menyediakan air dan terpal untuk kebutuhan tidur peserta.

Dia melanjutkan, dalam sejarah lomba tersebut baru pertama kali dilakukan pada Oktober lantaran tertunda Covid-19, karena biasanya dilakukan pada April. Alhasil, tantangan yang dihadapi peserta adalah suhu dari udara di Sahara lebih tinggi dari yang diperkirakan yang mencapai lebih dari 52 derajat celcius.

“Keadaan ekstrem tersebut membuat 50 persen peserta dari sekitar 700 peserta gagal mencapai garis finis yang tersisa sekitar 300 orang dan satu orang harus berpulang atau meninggal dunia,” ujarnya.

Dia bercerita, selama lomba berlangsung peserta pun kesulitan untuk memakai dan melepas kaos kaki lantaran kaki sudah dalam keadaan ngilu, karena dalam kondisi berdarah-darah.

“Saya masuk tenda hanya mendengar orang muntah-muntah karena dehidrasi parah. Saya sangat menjaga hidrasi saya, meskipun sempat air seni saya berwarna coca-cola yang membuat panik, tetapi untung normal kembali,” tuturnya.

Lebih lanjut, Omar mengungkapkan bahwa dirinya sudah berpikir untuk menjadi bagian dari lomba tersebut terhitung sejak dari 6 tahun yang lalu.

“Jadi, saya pernah melihat ada liputan berita di televisi sehingga menarik minat saya untuk mencobanya karena takjub melihat mereka yang nekat lari 250 km. Tanpa disadari hari ini saya salah satu orang nekat tersebut,” katanya

Dia melanjutkan, agar dapat berpartisipasi dalam event bertajuk Marathon des Sables 2021 dirinya melakukan latihan selama 5 hari dalam seminggu dalam kurun 2,5 tahun latihan intensif.

“Ikut lomba juga ada dua persyaratan medis, pertama harus sudah divaksinasi dengan merek yang masuk kategori mereka yaitu Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca. Persyaratan kedua adalah memberikan hasil elektrokardiogram (EKG) atau rekam jantung kurang dari 3 bulan sebelum event,” ujarnya.

Omar menyebutkan bahwa akan mendedikasikan larinya untuk pengasuhan berkualitas anak-anak terdampak Covid-19 dalam dampingan SOS Children’s Villages Indonesia. Adapun, saat ini dia tidak memiliki target untuk lomba lainnya.

“Setelah kemarin menyelesaikan lomba ini, di benak saya tidak ada target lagi [yang ingin diselesaikan]. Seperti tidak ada misi hidup lagi, tetapi saya selalu teringat bahwa saya melakukan ini untuk Yatim Piatu di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Sosial (Kemsos) per 7 September 2021, terdapat estimasi 25.202 anak yang telah kehilangan orang tua karena meninggal terinfeksi Covid-19.

Oleh sebab itu, Omar menilai hal tersebut menunjukkan bahwa hak anak atas lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif yang berkualitas menjadi isu yang genting untuk diperhatikan.

Dengan misi menjaga masa depan anak-anak Indonesia, Omar menegaskan dirinya berkontribusi untuk lebih dari 7200 anak SOS Children’s Villages Indonesia yang telah atau terancam kehilangan pengasuhan orang tua.

Sekadar informasi, Omar ambil bagian dalam edisi ke-35 Marathon de Sables di Ouarzazate, Maroko dengan turun di nomor V1 M atau kategori putra usia 40 hingga 49 tahun.

Berdasarkan catatan resmi di laman Marathon de Sables, Omar menorehkan catatan waktu 53 jam, 33 menit, 53 detik dalam melahap 250 kilometer lomba, yang terbagi dalam enam etape. Secara keseluruhan, Omar menempati peringkat ke-240. Sementara di kategori V1 M, dia menempati ranking ke-76.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maraton pelari
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top