Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lapas Tangerang Terbakar, PSI: Dirjen PAS Mundur adalah Cara Kesatria

Kejadian ini juga terjadi di tengah melemahnya penegakan hukum dalam sistem pemasyarakatan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 08 September 2021  |  13:14 WIB
Petugas menurunkan kantong jenazah korban kebakaran lapas di RSUD Kabupaten Tangerang, Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021). Sebanyak 41 warga binaan tewas akibat kebakaran yang membakar Blok C 2 Lapas Dewasa Tangerang Klas 1 A pada pukul 01.45 WIB Rabu dini hari. ANTARA FOTO - Muhammad Iqbal
Petugas menurunkan kantong jenazah korban kebakaran lapas di RSUD Kabupaten Tangerang, Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021). Sebanyak 41 warga binaan tewas akibat kebakaran yang membakar Blok C 2 Lapas Dewasa Tangerang Klas 1 A pada pukul 01.45 WIB Rabu dini hari. ANTARA FOTO - Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyesalkan terjadinya kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang Banten, Rabu, (8/9/2021) dinihari yang mengakibatkan 41 orang narapidana tewas di tempat dan 73 lainnya dilarikan ke rumah sakit karena luka bakar.

Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ariyo Bimmo mengatakan, meskipun penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, tetapi kebakaran lapas bukanlah sesuatu yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya.

“Kita bicara tentang nyawa manusia. Bubar jalan reformasi sistem pemasyarakatan bila kejadian seperti ini saja tidak bisa diantisipasi. Dirjen Pemasyarakatan (PAS) harus bertanggung jawab. Mundur adalah cara kesatria,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Dijelaskan, kebakaran yang terjadi kali ini salah satunya merupakan masalah manajemen risiko.

Menurutnya, narapidana berada dalam perlindungan negara dan semestinya sistem pemasyarakatan punya mitigasi dan tanggap bencana.

“Jangankan melaksanakan Mandela Rules, ini standar bangunan untuk evakuasi bencana dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) saja tidak terpenuhi. Dugaan saya, bukan hanya Lapas Tangerang yang rentan bencana seperti ini," lanjutnya.

Bimmo menambahkan, kejadian ini juga terjadi di tengah melemahnya penegakan hukum dalam sistem pemasyarakatan.

Bahkan, pemberian diskon dan perlakuan istimewa, terutama pada koruptor dan penjahat seksual anak membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai efektifitas lembaga dan sistem pemasyarakatan.

“Kita mengerti ada masalah overcrowding, tetapi itu sudah bertahun-tahun dan semestinya beres, jika Cetak Biru Pemasyarakatan sudah diimplementasikan seluruhnya. Namun, Ditjen Lapas tidak bisa sembunyi di balik permasalahan itu. Orang meninggal karena terjebak kebakaran itu kesalahan mendasar,” katanya.

Lapas Kelas 1 Tangerang per tanggal 7 September 2021, dihuni oleh 2.072 orang. Mereka terdiri dari 5 orang tahanan dan 2.067 narapidana.

“Sementara itu, kapasitasnya adalah 600 orang. Jika merujuk data tersebut, maka lapas Tangerang kelebihan penghuni alias over kapasitas 1.472 orang atau 245,3 persen,” ujar Bimmo.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebakaran lapas partai solidaritas indonesia
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top