Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengajar Kebangsaan di Seskoad & Sespim Polri, Giri Tak Lolos TWK KPK

Giri Suprapdiono menjadi salah satu pegawai KPK yang tak lolos dalam tes wawasan kebangsaan atau TWK. Padahal, salah satu direktur KPK itu kerap menjadi narasumber soal kebangsaan di sejumlah lembaga, salah satunya Seskoad.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 29 Mei 2021  |  12:50 WIB
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - Antara
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - Antara

Bisnis.com,JAKARTA- Mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah secara tegas mengatakan bahwa tes wawasan kebangsaan penuh dengan kejanggalan.

Hal ini berkaitan dengan informasi Giri Suprapdiono, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK yang dinyatakan tidak lolos tes kebangsaan dan terancam dicopot dari lembaga antikorupsi. Febri menyebutkan kalau sosok giri adalah salah satu pejabat KPK yang cakap. 

“Desember 2020 menerima penghargaan Makarta Bhakti Nagari award. Lulusan terbaik pelatihan kepemimpinan nasional II angkatan XVII di LAN,” ujarnya Febri melalui akun twitter @febridiansyah, Sabtu (20/5/2021).

Dia menjelaskan bahwa Giri sudah mengabdi di KPK sejak 2005 dan menerima sejumlah penghargaan, menjadi narasumber tentang wawasan kebangsaan dan antikorupsi di Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad), Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri, serta di Badan Intelijen Negara (BIN) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Sekarang ia masuk list 75, dikabarkan tidak lolos tes kebangsaaan, terancam disingkirkan dari KPK karena tes kebangsaan kontroversial,” tuturnya.

Semantara itu Mantan Anggota Ombudsman, Alamsyah Saragih, mengatakan bahwa tes wawasan kebangsaan (TWK) yang menjadi syarat alih status pegawai KPK banyak menyimpan masalah. Alamsyah menemukan setidaknya ada tiga masalah berkaitan pelaksanaan tes wawasan kebangsaan (TWK) kepada pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Satu, masalah relevansi pertanyaan-pertanyaan itu, materi Kedua, metode. Ketiga, kompetensi asesor,” kata Alamsyah

Alamsyah mengungkapkan semula dirinya tidak menyangka TWK akan menjadi satu parameter untuk migrasi pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara (ASN). Berdasarkan pengalamannya ketika bertugas di Ombudsman dalam menyusun jenjang jabatan asisten pemeriksa, tes psikologi untuk kompetensi manajerial memiliki instrumen yang banyak dan alat ukurnya sudah teruji. "Sehingga saya tidak meragukan. Kalibrasi sudah makin akurat, cukup presisi,” katanya

Namun, kata Alamsyah, TWK memiliki beberapa referensi. Salah satunya indeks moderasi bernegara (IMB) yang biasa digunakan dalam rekrutmen TNI AD. Ia pun mencontohkan salah satu polemik yang pernah mencuat, yaitu seorang taruna yang diisukan memiliki paham radikalisme.

Namun, taruna tersebut lolos rekrutmen karena nilai IMB-nya dianggap bagus. Dalam TWK pegawai KPK, BKN juga melakukan profiling. Alamsyah menilai profiling tersebut tidak adil. Ia mempertanyakan model apa yang digunakan untuk melakukan profiling seribuan pegawai. “Apakah semua harus diperlakukan sama? Tidak. Ada yang didatangi aparat tertentu, dicek rumahnya. Apakah 1.000 orang dicek? Tidak mungkin. Ini kan sudah jadi pertanyaan tentang metode, valid atau enggak, bias kepentingan atau enggak,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK KPK korupsi
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top