Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi Sampaikan Tiga Pemikiran Ini dalam KTT Iklim Biden

Negara berkembang akan melakukan ambisi serupa jika komitmen negara maju kredibel disertai dukungan riil. Dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju sangat diperlukan.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 23 April 2021  |  08:35 WIB
Presiden Joko Widodo - Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo - Biro Pers Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan tiga pemikiran terkait dengan isu perubahan iklim.

Hal itu disampaikan saat mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate secara virtual, Kamis (22/4/2021).

Pertama, menegaskan bahwa Indonesia sangat serius dalam pengendalian perubahan iklim dan mengajak dunia melakukan aksi-aksi nyata.

Sebagai negara kepulauan terbesar dan pemilik hutan tropis, kata Jokowi, penanganan perubahan iklim adalah kepentingan nasional Indonesia melalui kebijakan, pemberdayaan, dan penegakkan hukum.

“Penghentian konversi hutan alam dan lahan gambut mencapai 66 juta hektare, lebih luas dari gabungan luas Inggris dan Norwegia. Penurunan kebakaran hutan hingga sebesar 82 persen di saat beberapa kawasan di Amerika, Australia, dan Eropa mengalami peningkatan terluas,” ujarnya dikutip dari laman Setkab, Jumat (23/4/2021).

Pemikiran kedua adalah Kepala Negara RI mengajak para pemimpin dunia memajukan pembangunan hijau untuk dunia yang lebih baik.

Menurutnya, Indonesia telah memutakhirkan kontribusi yang ditentukan secara nasional (nationally determined contributions/NDC) untuk meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketahanan iklim.

Indonesia juga menyambut baik penyelenggaraan Konvensi Kerangka Perubahan Iklim ke-26 di Inggris dan target sejumlah negara menuju net zero emission tahun 2050.

Namun, imbuh Jokowi, komitmen tersebut harus dijalankan berdasarkan pemenuhan komitmen NDC tahun 2030 agar tetap kredibel.

“Negara berkembang akan melakukan ambisi serupa jika komitmen negara maju kredibel disertai dukungan riil. Dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju sangat diperlukan,” imbuhnya.

Ketiga, untuk mencapai target Persetujuan Paris dan agenda bersama berikutnya, Presiden Jokowi memandang kemitraan global harus diperkuat.

Dia menilai, kesepahaman dan strategi perlu dibangun di dalam mencapai net zero emission dan menuju UNFCCC COP-26 Glasgow.

Indonesia sedang mempercepat pilot, percontohan, net zero emission antara lain dengan membangun Indonesia Green Industrial Park seluas 12.500 hektare di Kalimantan Utara yang akan menjadi yang terbesar di dunia.

“Kami sedang melakukan rehabilitasi hutan mangrove seluas 620 ribu hektare sampai 2024, terluas di dunia dengan daya serap karbon mencapai empat kali lipat dibanding hutan tropis [dunia]. Indonesia terbuka bagi investasi dan transfer teknologi, termasuk investasi untuk transisi energi,” jelasnya.

Selain itu, sambungnya, peluang besar juga terbuka bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, dan kendaraan listrik.

Eks-Gubernur DKI Jakarta ini menegaskan bahwa presidensi Indonesia untuk G20 pada 2022 akan memprioritaskan penguatan kerja sama perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

KTT Leaders Summit on Climate dibuka secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris.

Konferensi diikuti oleh 41 kepala negara, kepala pemerintahan, dan ketua organisasi internasional.

KTT ini merupakan upaya Presiden Joe Biden mengembalikan AS sebagai negara yang memimpin isu internasional. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi perubahan iklim Joe Biden
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top