Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Buruh Minta Kegiatan Ekonomi di Myanmar Disetop Mulai Hari Ini

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah organisasi nirlaba, menyatakan tentara dengan sengaja meneror penduduk di Yangon.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  07:25 WIB
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main

Bisnis.com, JAKARTA - Serikat buruh utama Myanmar meminta anggotanya untuk menutup kegiatan ekonomi mulai hari ini, Senin (8/3/2021), untuk mendukung kampanye melawan kudeta bulan lalu.

Dengan demikian, cara itu akan meningkatkan tekanan pada pemerintah militer setelah pasukannya menembakkan senjata dan menduduki rumah sakit di kota utama Yangon setelah seharian aksi protes besar-besaran.

Saksi melaporkan suara tembakan atau granat kejut di banyak distrik Ibu Kota komersial setelah malam tiba. Hal itu dilakukan setelah tentara mendirikan kemah di rumah sakit dan kompleks universitas, menurut media lokal melaporkan. Akan tetapi tidak jelas apakah ada yang terluka.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah organisasi nirlaba, menyatakan tentara dengan sengaja meneror penduduk di Yangon.

Aksi unjuk kekuatan itu terjadi setelah beberapa aksi protes nasional terbesar sejak kudeta 1 Februari. Sedangkan aliansi sembilan serikat pekerja menyatakan merencanakan perpanjangan penutupan kegiatan ekonomi secara penuh.

"Melanjutkan kegiatan ekonomi dan bisnis seperti biasa hanya akan menguntungkan militer karena mereka akan terus menekan  rakyat Myanmar," kata mereka dalam pernyataan bersama.

Mereka menambahkan bawa sekaranglah waktunya untuk mengambil tindakan untuk mempertahankan demokrasi. Tentara menyatakan bahwa mereka menangani protes secara sah.

Seorang pejabat dari partai pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi tewas semalam dalam tahanan polisi. Pejabat Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Khin Maung Latt pernah bekerja sebagai manajer kampanye untuk salah satu dari dua anggota parlemen muslim yang terpilih pada tahun 2020.

Ba Myo Thein, seorang anggota majelis tinggi parlemen yang dibubarkan setelah kudeta, mengatakan laporan tentang luka memar di kepala dan tubuh Khin Maung Latt menimbulkan kecurigaan bahwa dia telah dianiaya.

"Sepertinya dia ditangkap pada malam hari dan disiksa dengan kejam," katanya seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (8/3/2021).

Dia menambahkan, bahwa hal itu sama sekali tidak bisa diterima.

Polisi di Pabedan, distrik Yangon tempat Khin Maung Latt ditangkap menolak berkomentar. Salah satu aksi protes terbesar dalam beberapa pekan terakhir terjadi kemarin. Polisi menembakkan granat kejut dan gas air mata untuk menghentikan aksi duduk puluhan ribu orang di Mandalay, kata kelompok media Myanmar Now. Sedikitnya 70 orang ditangkap.

Polisi juga meluncurkan gas air mata dan granat kejut ke arah pengunjuk rasa di Yangon dan di kota Lashio di wilayah Shan utara, menurut tayangan video yang diposting di Facebook.

Seorang saksi mata mengatakan, polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan aksi protes di kota kuil bersejarah Bagan, dan beberapa penduduk mengatakan di postingan media sosial bahwa peluru tajam digunakan.

Video yang diposting oleh menunjukkan setidaknya tentara memukuli orang-orang di Yangon.

Sithu Maung, anggota parlemen NLD yang bekerja dengan Khin Maung Latt, mengatakan tentara dan polisi menahan ayahnya pada Minggu malam.

"Mereka masuk ke rumah dan menodongkan senjata setelah saya diberitahu," katanya dalam sebuah posting Facebook.

Dia menambahkan bahwa ayahnya juga dipukuli.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan pasukan keamanan telah membunuh lebih dari 50 orang untuk memadamkan demonstrasi dan pemogokan setiap hari sejak militer menggulingkan pemerintahan yang  sah awal Februarai lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buruh myanmar
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top