Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KBRI Yangon Imbau WNI di Myanmar Pertimbangkan Pulang ke Indonesia

KBRI Yangon telah menyampaikan imbauan kepada WNI agar tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 05 Maret 2021  |  06:17 WIB
Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer
Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA - Kedutaan Besar RI di Yangon mengimbau warga negara Indonesia di Myanmar agar mempertimbangkan kembali ke Tanah Air mengikuti peningkatan status siaga di lingkungan KBRI.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Luar Negeri pada Jumat (5/3/2021) dini hari, KBRI Yangon telah menyampaikan imbauan kepada WNI agar tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak.

"Sedangkan bagi WNI beserta keluarganya yang tidak memiliki keperluan yang esensial, dapat mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini masih tersedia," seperti dikutip dari pernyataan resmi Kemlu.

Kendati demikian, menurut pemantauan Kemlu dan KBRI Yangon, saat ini dipandang belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI.

Dengan memperhatikan perkembangan situasi terakhir dan sesuai rencana kontijensi, saat ini KBRI Yangon telah menetapkan status Siaga II.

Kemlu dan KBRI Yangon terus memantau perkembangan situasi di Myanmar. Bagi WNI di Myanmar yang membutuhkan bantuan dapat menghubungi hotline KBRI Yangon pada +95 9 503 7055 atau hotline Perlindungan WNI Kemlu pada +62 812-9007-0027.

Seperti diketahui, Yangon dan beberapa kota lainnya menjadi titik unjuk rasa pro demokrasi terparah setelah adanya kudeta militer sejak 1 Februari.

PBB melaporkan, sedikitnya 38 orang tewas pada Rabu, menjadikan hari "paling berdarah" pada krisis Myanmar. Pemerintah militer menentang kecaman internasional atas kudeta dengan tindak kekerasan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wni myanmar
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top