Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengendalian Plastik Masuk Skala Korporasi

Masalah sampah plastik harus ditangani secara bersama.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 20 Februari 2021  |  00:45 WIB
Limbah di gudang Alala Recycling, pengolahan sampah plastik jenis polyethylene terephtalate (PET) di Kabupaten Bogor. Siap diolah menjadi berjuta rupiah.
Limbah di gudang Alala Recycling, pengolahan sampah plastik jenis polyethylene terephtalate (PET) di Kabupaten Bogor. Siap diolah menjadi berjuta rupiah.

Bisnis.com, JAKARTA - Penanganan limbah plastik semakin meluas dengan masuknya sejumlah perusahaan yang beroperasi secara global.

Berbagai inovasi pun dikeluarkan untuk memerangi masalah limbah plastik itu, utamanya untuk mendaur ulang.

Salah satu perusahaan perangkat lunak, Aspen Technology Inc. turut mendukung inovasi untuk memerangi mata rantai limbah plastik dengan menggandeng Alliance to End Plastic Waste.

AspenTech tengah mengembangkan para produsen untuk mengurangi limbah dan emisi dari produksi plastik dan mempercepat inovasi teknologi untuk proses daur ulang.

"Kami memiliki misi untuk membantu klien menjalankan bisnis mereka dengan lebih aman, lebih hijau, lebih andal, dan lebih efisien,” ujar Antonio Pietri CEO Aspen Technology seperti dikutip dalam keterangan resminya, Jumat (19/2/2021).

Sementara itu, Jacob Duer CEO Alliance to End Plastic Waste menjelaskan bahwa telah ada 50 perusahaan yang tergabung untuk mengurangi limbah plastik.

Dia menuturkan, dengan kian banyaknya partisipasi dari perusahaan-perusahaan, maka visi untuk mengakhir limbah plastik akan semakin dekat.

"Kami membuka solusi yang dapat diapplikasikan dengan mudah ke skala besar dan berkelanjutan ," ungkapnya.

Sebelumnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang lingkungan Greenpeace mengingatkan semua pihak akan dampak buruk jangka panjang yang bisa disebabkan sampah dari kemasan plastik termasuk galon sekali pakai terhadap lingkungan.

Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, menyampaikan bahwa dulu masyarakat menggunakan botol plastik itu karena menganggapnya lebih mudah, lebih instan, dan lebih nyaman untuk dipakai. Sayangnya, saat itu tidak ada satupun yang memikirkan dampak jangka panjangnya itu apa terhadap lingkungan.

“Saya khawatir kita akan menemukan masalah baru lagi dalam permasalahan sampah plastik ini dalam beberapa tahun mendatang jika penggunaan kemasan plastik sekali pakai kian bertambah,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

plastik
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top