Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efikasi Vaksin Covid-19 Sinovac 65,3 Persen, Apa Pengaruhnya?

Efikasi vasksin Covid-19 Sinovac sebesar 65,3 persen, lebih rendah dari Brasil yang mencapai 78 persen dan Turki 91,25 persen.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  17:36 WIB
rnSeorang pekerja melakukan pemeriksaan kualitas di fasilitas pengemasan produsen vaksin China, Sinovac Biotech, yang mengembangkan vaksin untuk mengatasi Covid-19, dalam tur media yang diorganisir pemerintah di Beijing, China, 24 September 2020. - Antara/Reuters\r\n
rnSeorang pekerja melakukan pemeriksaan kualitas di fasilitas pengemasan produsen vaksin China, Sinovac Biotech, yang mengembangkan vaksin untuk mengatasi Covid-19, dalam tur media yang diorganisir pemerintah di Beijing, China, 24 September 2020. - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan efikasi vaksin Covid-19 Sinovac sebesar 65,3 persen. Dengan demikian, vaksin tersebut telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati mengatakan angka efikasi bukan harga mati, karena dapat dipengaruhi oleh banyak faktor ketika uji klinis dilakukan.

Selain itu, jumlah subyek uji dan lama pengamatan juga dapat mempengaruhi hasil. Dia mengatakan jika pengamatan diperpanjang menjadi 1 tahun, sangat mungkin menghasilkan angka efikasi vaksin yang berbeda.

Dia menjelaskan bahwa efikasi vaksin 65,3 persen artinya terjadi penurunan kejadian infeksi sebesar 65 persenan.

“Secara populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak ikutan yang panjang. Katakanlah dari 100 juta penduduk Indonesia, jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta yang bisa terinfeksi, jika turun 65 persen dengan vaksinasi, maka hanya 3 juta penduduk yang terinfeksi, selisih 5,6 juta,” ujar Zullies melalui keterangan resmi, Selasa (12/1/2021).

Menurutnya, mencegah 5 jutaan kejadian infeksi tentu sudah sangat bermakna dalam penyediaan fasilitas perawatan kesehatan.

Belum lagi, secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, yaitu jika dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

“Jadi, saya pribadi masih menaruh harapan kepada vaksinasi, semoga bisa mengurangi angka kejadian infeksi Covid-19 di negara kita. Apalagi jika didukung dengan pemenuhan protokol kesehatan yang baik, semoga dapat menuju pada pengakhiran pandemi Covid-19 di Indonesia,” kata Zullies.

Efikasi, imbuhnya, juga dipengaruhi dari karakteristik subyek ujinya. Jika subyek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat.

Uji klinik vaksin Sinovac di Brasil dan Indonesia berbeda, di Brasil menggunakan kelompok berisiko tinggi yaitu tenaga kesehatan, sehingga efikasinya diperoleh lebih tinggi. Sedangkan di Indonesia menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil.

“Jika subyek ujinya berisiko rendah, apalagi taat dengan prokes, tidak pernah keluar rumah sehingga tidak banyak yang terinfeksi, maka perbandingan kejadian infeksi antara kelompok placebo dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah, dan menghasilkan angka yang lebih rendah,” jelas Zullies.

Misalnya pada uji klinik Sinovac di Bandung, yang melibatkan 1.600 orang, terdapat 800 subyek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan placebo [vaksin kosong].

Zullies menjelaskan, jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi [3,25 persen], sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang kena Covid (9,4 persen), maka efikasi dari vaksin adalah (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100 persen= 65,3 persen.

“Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak,” jelasnya.

Dia menuturkan bahwa uji klinik di Brasil menggunakan kelompok berisiko tinggi yaitu tenaga Kesehatan, sehingga efikasinya diperoleh lebih tinggi, sedangkan di Indonesia menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil sehingga efikasinya pun lebih rendah.

Seperti diberitakan sebelumnya, BPOM mengumumkan efikasi vaksin Covid-19 produksi Sinovac dan Bio Farma sebesar 65,3 persen. Angka itu di bawah tingkat kemanjuran atau efikasi di Turki yang mencapai 91,25 persen, sedangkan Brasil 78 persen.

Meski efikasi vaksin Sinovac di Indonesia di bawah Turki dan Brasil, tapi Penny menyatakan bahwa efikasi sebesar 65,3 persen sudah sesuai dengan persyaratan WHO di mana minimal efikasi vaksin adalah 50 persen.

“Uji klinis dari CoronaVac sebesar 65,3 persen menunjukkan harapan bahwa vaksin ini mampu menurunkan kejadian penyakit Covid-19 hingga 65,3 persen. Angka penurunan [kasus Covid-19] dengan vaksin tersebut akan sangat berarti,” ujarnya.

Penny mengungkapkan bahwa vaksin CoronaVac telah menunjukkan kemampuan antibodi dalam tubuh dan juga kemampuan antibodi dalam membunuh dan menetralkan virus atau imunogenisitas.

"Ini dilihat dari uji klinis fase I dan II di China dengan periode pemantauan sampai 6 bulan. Uji Klinik fase III data imunogenisitas menunjukkan hasil yang baik," ujar Penny.

Dengan terbitnya EUA, pemerintah pun memastikan bahwa program vaksinasi akan mulai dilaksanakan besok, Rabu 13 Januari 2021. Adapun, Presiden Jokowi akan menjadi orang yang pertama disuntik vaksin Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Covid-19 Sinovac Vaksin Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top