Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Raja Swedia Akui Negaranya Gagal Tangani Pandemi Covid-19

Taktik penanganan pandemi Swedia memicu kontroversial karena melakukan intervensi rendah dari pemerintah dan mengandalkan rasa tanggung jawab sipil masyarakat untuk mengekang virus Corona.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 18 Desember 2020  |  10:24 WIB
Poster yang meminta warga untuk saling menjaga kesehatan dan menjaga jarak dengan orang lain dipasang di tiang lampu di Stockholm, Swedia, Rabu (11/11/2020). - Bloomberg/Mikael Sjoberg
Poster yang meminta warga untuk saling menjaga kesehatan dan menjaga jarak dengan orang lain dipasang di tiang lampu di Stockholm, Swedia, Rabu (11/11/2020). - Bloomberg/Mikael Sjoberg

Bisnis.com, JAKARTA - Raja Swedia mengakui strategi negaranya untuk mengendalikan wabah virus Corona telah gagal ketika Swedia mencatat kematian tertinggi akibat Covid-19 dibanding negara Nordik tetangganya.

Raja Carl Gustaf XVI, yang putra dan menantunya dinyatakan positif bulan lalu, menggunakan acara TV Natal tahunan kerajaan khusus untuk menyoroti dampak yang semakin besar dari virus Corona.

Pernyataan Raja Swedia ini terbilang langka karena tugas raja yang sebagian besar bersifat seremonial jarang mengintervensi kebijakan pemerintah.

"Saya yakin kami telah gagal. Kami memiliki banyak orang yang telah meninggal dan itu mengerikan. Ini adalah sesuatu yang kita semua derita," kata raja kepada televisi SVT Swedia, dikutip dari Politico, (17/12/2020.)

Pernyataan raja merupakan kutipan dari program yang disiarkan oleh SVT pada hari Rabu (16/12/2020), yang akan tayang dalam format lengkap pada (21/12/2020).

Taktik penanganan pandemi Swedia memicu kontroversial karena melakukan intervensi rendah dari pemerintah dan mengandalkan rasa tanggung jawab sipil masyarakat untuk mengekang virus Corona.

Swedia telah menghindari lockdown atau wajib masker, dan mengizinkan sekolah, restoran, dan sebagian besar bisnis buka, serta mengandalkan jarak sosial sukarela dan rekomendasi protokol kebersihan untuk memperlambat penyebaran virus.

Sebuah komisi resmi mengatakan pada Selasa bahwa kekurangan sistemik dalam perawatan lansia ditambah dengan tindakan yang tidak memadai dari pemerintah dan lembaga, telah berkontribusi pada angka kematian Swedia yang sangat tinggi di panti jompo.

Dikutip dari Tempo, Swedia telah mencatat lebih dari 7.800 kematian, tingkat per kapita yang jauh lebih tinggi daripada negara tetangganya di Nordik tetapi lebih rendah daripada di Inggris, Italia, Spanyol atau Prancis, yang semuanya memilih untuk lockdown.

Raja berusia 74 tahun itu tidak memiliki kekuatan politik formal dan jarang berkomentar tentang masalah saat ini dan politik, meskipun ia telah berbicara kepada bangsa Swedia untuk memberikan moral dan motivasi selama wabah.

Pada musim semi, tanggapan pemerintah terhadap pandemi didukung secara luas oleh orang Swedia yang melakukan aktivitas seperti biasa sementara sebagian besar Eropa menerapkan lockdown.

Tetapi meningkatnya jumlah korban tewas, terutama di antara penghuni panti jompo, telah menuai kritik yang meningkat.

Sebuah jajak pendapat di harian Dagens Nyheter, pada Kamis kemarin, menunjukkan sekitar sepertiga orang Swedia mengungkapkan tingkat kepercayaan yang tinggi dalam penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintah, turun dari 42 persen pada bulan Maret dan puncaknya sebesar 56 persen setelah infeksi melambat di musim panas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

swedia Virus Corona

Sumber : Tempo

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top