Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biaya Perawatan Pasien Covid-19: Pilih Rp184 Juta atau Pakai Masker?

Dari kacamata ekonomi, pandemi Covid-19 harus dikendalikan, karena sumber daya di bidang kesehatan maupun anggaran pemerintah juga terbatas.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  12:50 WIB
Ilustrasi - Gedung Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, tempat perawatan dan karantina pasien Covid-19. - Antara/Ariella Annasya
Ilustrasi - Gedung Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, tempat perawatan dan karantina pasien Covid-19. - Antara/Ariella Annasya

Bisnis.com, JAKARTA – Hidup sehat, disiplin menjalankan protokol kesehatan, dan menjalani vaksinasi Covid-19 dinilai lebih efektif dan efisien dalam mengatasi penularan virus Corona

Hal itu jauh lebih baik daripada merawat pasien yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19.

Di luar itu, dengan menjalankan tiga hal di atas berarti terjadi penghematan yang tidak sedikit.

Pasalnya, untuk biaya perawatan satu orang pasien Covid-19, rata-rata diperlukan anggaran sekitar Rp184 juta.

Silakan hitung berapa dana yang harus dialokasikan untuk merawat seluruh pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini.

Adapun jumlah pasien positif Covid-19 sampai Kamis (3/12/2020) tercatat sebanyak  557.877. Sementara pasien yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 462.553 orang. Sedangkan pasien meninggal 17.355. Di sisi lain, jumlah suspek hingga Kamis tercatat sebanyak 62.397 orang.

Pandemi Covid-19 membawa dampak multidimensi bagi masyarakat. Selain berdampak pada kesehatan, pandemi juga berdampak pada perekonomi dan kehiduapan sosial.

Itu sebabnya pemerintah melakukan intervensi agar masyarakat tetap sehat dan produktif. Masyarakat pun perlu menyadari bahwa kesehatan adalah aset terpenting bagi mereka. Kesehatan juga investasi bagi masa depan.

Oleh karena itu, upaya-upaya pencegahan menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan program pemerintah.

Menurut dr. H. Mohammad Subuh MPPM, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan, pandemi Covid-19 menimbulkan dampak yang luas.

 “Apabila terjadi peristiwa global public health seperti pandemi Covid-19 ini, tentu ada permasalahan yang harus diantisipasi oleh sebuah negara hingga ke tatanan individu. Karena permasalahan ini menimbulkan berbagai efek, pertama tentu kita berhadapan dengan masalah kesehatan, kedua perekonomian sudah mulai terdampak, saya lihat keamanan juga sudah mulai terganggu”, terangnya dalam Dialog Produktif bertema Pencegahan dan Pengobatan yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (1/12/2020).

Dari kacamata ekonomi, pandemi Covid-19 harus dikendalikan, karena sumber daya di bidang kesehatan maupun anggaran pemerintah juga terbatas.

Sejauh ini pemerintah sudah melakukan berbagai upaya mulai dari sektor kesehatan hingga memberikan stimulus perekonomian.

Namun, jika semua itu tidak diikuti disiplin masyarakat, apa pun yang dilakukan pemerintah tidak akan memberikan efek dalam menghadapi Covid-19. Bahkan, yang terjadi adalah anggaran terkuras sementara pandemi terus berlangsung.

Masyarakat sehat, tidak terinfeksi Covid-19 adalah tujuan utama dari semua itu.

“Tujuannya satu, ingin menyehatkan individu, karena kalau individu sehat, akan membuat produktivitas meningkat, sehingga pendapatan individu meningkat, dan berdampak pendapatan negara juga ikut meningkat. Jadi dengan melindungi kesehatan kita juga melindungi negara,” jelas dr. Subuh.

Perlu diketahui, perawatan pasien Covid-19 diketahui menelan biaya yang besar, rata-rata Rp184 juta per orang.

 “Kalau memerlukan perawatan misalnya ICU itu satu hari Rp15 juta, apalagi menggunakan ventilator. Kemudian apabila ada penyakit penyerta, ditambah lagi rata-ratanya menjadi Rp17 juta per hari. Kondisi inilah yang harus dihindari, semua biaya saat ini tanggung jawab negara,” jelas dr. Subuh.

Namun, anggaran negara pasti ada batasnya. Dengan gerakan pencegahan secara bersama-sama, selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, anggaran pun bisa dihemat.

 “Pada saat ini pemulihan kesehatan dan ekonomi bisa dilakukan dengan menjaga budaya 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), karena tanpa upaya seperti ini maka pemulihan ekonomi Indonesia sangat sulit. Bagi masyarakat tidak perlu ragu, saat vaksin datang, pasti sudah dijamin proses memastikan keamanan dan efektivitasnya”, ujar dr. Subuh.

Jadi silakan Anda pilih, rajin memakai masker dan disiplin menerapkan protokol kesehatan atau Anda mendapat alokasi sekitar Rp184 juta tapi menjadi pasien terinfeksi Corona?

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun. 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top