Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Buku Indie dan Digibook, Berjuang di Celah Media Sosial dan Covid-19

Terobosan untuk membuat buku secara mandiri atau buku dalam format baru yang bisa diakses masyarakat pengguna media sosial menjadi fenomena tersendiri penerbitan buku di Indonesia.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 10 November 2020  |  10:57 WIB
Cover buku yang diterbitkan secara indie atau penerbitan mandiri dan buku digital - Bisnis/Sae
Cover buku yang diterbitkan secara indie atau penerbitan mandiri dan buku digital - Bisnis/Sae

Bisnis.com, JAKARTA – Penerbitan buku di tengah wabah Covid-19 selintas bukanlah usaha yang mudah dilirik calon pembeli. Terlebih, buku bukan pilihan utama di saat-saat sulit sekarang ini.

Namun hal itu tidak berarti menghapus peluang munculnya buku-buku baru yang akan bertemu dengan calon pembelinya masing-masing.

Di luar itu, terobosan untuk membuat buku secara mandiri atau buku dalam format baru yang bisa diakses masyarakat pengguna media sosial menjadi fenomena tersendiri penerbitan buku di Indonesia.

Nadjib Kertapati Z,  sastrawan yang dikenal lewat karya-karya novel dan cerita pendeknya, membuktikan penerbitan buku karyanya secara mandiri masih ditunggu pembaca.

Penulis skenario film yang rajin menyelenggarakan kursus menulis skenario secara gratis ini baru saja menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Perempuan yang Hadir Bersama Petir.

Reaksi pembeli dilaporkan Nadjib dalam salah satu status facebooknya.

Cover kumpulan cerpen karya Nadjib Kartapati Z/Facebook-Nadjib Kartapati Z

“Baru sekarang aku iklan buku, sehari SOLD OUT dipesan. Masih juga ada yang ngorder, kuminta nunggu Senin besuk. Siapa tahu ada yang lupa transfer?” ujar Nadjib.

Pada status lainnya di Facebook, Nadjib menulis,”Yg pesan transferannya ditunggu s/d Senin. Tidak transfer, pesanan dianggap batal.”

Bukan tanpa sebab Nadjib menuliskan pesan tersebut. Selain memastikan pemesan buku membeli karyanya, hal itu juga untuk mengantisipasi pembeli yang belum kebagian buku.

Nadjib menyebutkan di masa pandemi baru membuat satu karya berupa kumpulan cerpen. Bukunya tersebut nyatanya langsung ludes terjual.

Nadjib tidak tahu pasti penyebab bukunya habis terjual. Ia menyebut sejumlah kemungkinan seperti cerita misteri yang baru sekarang ia bukukan, kondisi pandemi meski situasi saat ini sedang susah, atau karena faktor model cover yang cantik.

“Ada beberapa pembeli yang tertarik soal itu,” ujarnya soal cover kumpulan cerpennya.

Nadjib menyebutkan dari semua kemungkinan tersebut tidak ada kepastian mana yang menjadi faktor penentu.

Satu hal yang pasti, selama ini Nadjib memasarkan karyanya melalui Facebook dan komunitas.

“Dari komunitas itu, getok tular. Pengalaman, kalau produknya bagus, getok tularnya kenceng. Seseorang baca, terkesan, terus cerita ke temennya, terus ikut beli. Makanya biasanya memakan waktu panjang, yang ini gak tahu, cuma sehari iklan di FB langsung sold out dipesan,” ujarnya.

Peserta kelas menulis skenario disebut Nadjib sebagai salah satu komunitas yang jadi "pasar" bagi buku yang diterbitkannya secara mandiri.

Poster promosi Listen to Your Seoul karya Evi Larasati Haryoto/Facebook-Evi Larasati Haryoto

Pendekatan komunitas sebagai target market dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan juga ditempuh Evi Larasati Haryoto penulis novel Listen to Your Seoul.

“Target market sebetulnya umum. Cuma emang lagi membidik komunitas yang massanya lebih banyak. Komunitas kan jelas ada kesamaan hobi, membaca dan menulis,” ujar Evi.

Berbeda dengan Nadjib yang menerbitkan sendiri karyanya, Evi menerbitkan novel perdananya melalui JWriting Soul Publishing.

Penerbit yang menjalankan usaha self publishing ini, menurut Evi, membiayai seluruh ongkos penerbitan. Penerbit menentukan harga jual buku. Selebihnya, pemesanan buku dilakukan melalui penulis dan dari setiap buku yang terjual penulis langsung mengambil royalti dari harga jual buku. Dana pembelian buku yang sudah dipotong royalti itu kemudian disetorkan kepada penerbit.

Hasilnya, dari cetakan pertama, menurut Evi semua buku telah terjual.

Soal harga jual, Evi menyebutkan novel “seangkatan” karyanya, yang sama-sama menang dan lolos seleksi, dijual di bawah harga novel Listen to Your Seoul.

Tentang keterjangkauan harga bagi konsumen, Evi menyebutkan bahwa buku memang bukan barang primer. “Tapi kalau mereka ingin dan ada anggaran, ya dibeli juga,” ujar Evi.

Di sisi lain, Evi pun membandingkan novel-novel di komunitas lain. “Harganya di atas buku aku, sekitar Rp100 ribu di luar ongkos kirim, cetak sampai ribuan dan ada saja yang beli.”

Terkait promosi buku, Evi menjadikan akun Facebook juga Messenger sebagai sarana. Selain itu, untuk pemesanan buku, calon pembeli bisa menghubungi nomor WA seperti tertera di poster yang terdapat di akun facebook Evi.

Digibook, Terobosan Buku Digital

Selain buku dalam bentuk konvensional, sosial media juga menjadi sarana untuk menawarkan terobosan baru seperti dilakukan r.noorz alias Rachman Nurwanto.

Kemahiran membuat ilustrasi dan tulis-menulis mengantar Rachman membuat buku digital atau digibook sejak sekitar Mei 2020.

“Tadinya kami [Digibook Interactive] membuat buku elektronik untuk Ipad dan tablet. Namun yang menggunakan hanya perpustakaan Telkom CorpU, terutama iBooks atau kini dikenal sebagai Apple books,” ujar Rachman mengawali ceritanya.

Selanjutnya, untuk produk non-Apple, Rachman membuat pdf interaktif.

“Terus selama ini kan suka kirim atau dikirimi pdf via Whatsapp. Susah saya bacanya. Sampai terpikir perlu ada diversifikai buku elektronik selain Apple books, jadi saya mencari formula ukuran yang pas masuk ke layar hape. Percobaan sempat mengalami beberapa kali kegagalan sampai akhirnya menemukan ukuran yang pas, terus saya coba membuat buku saya sendiri,” ujar Rachman sembari menyebut digibook tentang Dewa Yunani.

Karya lain yang dbuatnya berjudul Malin, yang selintas mirip kisah Malin Kundang namun dengan versi tragedi komedi.

Malin, salah satu karya Rachman yang dibuat dalam versi digibook/Istimewa

Rachman sempat mencoba memasukkan karya terobosannya itu ke Google play book, tapi ditolak.

”Padahal maksudnya mau dijual di situ,” ujarnya.

Hingga saat ini Rachman telah membuat tiga digibook karya sendiri, yakni Dewa Yunani, Malin, dan Publish! With Digital Mindset.

Karya terakhir menjadi buku digital yang mengedukasi pembaca tentang mindset digital.

Karya-karya Rachman dapat dibaca dan disebarkan secara gratis. “Digratiskan dengan harapan bisa menghibur orang lain,” ujar Rachman.

Kalau pun ada yang berminat memberikan donasi, Rachman menuliskan nomor rekening yang bisa digunakan untuk transfer donasi.

Donasi tersebut digunakan Rachman sebagai “bahan bakar” untuk membuat karya digibook berikutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buku penerbit buku buku digital
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top