Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketegangan Meningkat, China Tunda Impor Lobster Australia

Grup Penasihat Perdagangan Makanan Laut mengatakan dalam sebuah pernyataan mengatakan beberapa pengiriman lobster Australia mengalami penundaan izin pabean dalam beberapa hari terakhir karena peningkatan inspeksi impor di China.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 November 2020  |  16:08 WIB
Tambak udang terbesar di Australia milik SeaFarms Group Ltd di Queensland -  Bloomberg / Carla Gottgens
Tambak udang terbesar di Australia milik SeaFarms Group Ltd di Queensland - Bloomberg / Carla Gottgens

Bisnis.com, JAKARTA - Industri lobster baru Australia dapat menjadi korban terbaru dari meningkatnya ketegangan antara Canberra dan Beijing.

Australia mengatakan petugas bea cukai China menunda impor beberapa produk kerang premium dari negara itu.

Grup Penasihat Perdagangan Makanan Laut mengatakan dalam sebuah pernyataan mengatakan beberapa pengiriman lobster Australia mengalami penundaan izin pabean dalam beberapa hari terakhir karena peningkatan inspeksi impor di China.

Sebagian besar eksportir telah memutuskan untuk menghentikan pengiriman ke China sampai ada lebih banyak informasi mengenai proses baru. Menteri Perdagangan Simon Birmingham meminta semua importir diperlakukan sama.

"Otoritas China harus mengesampingkan penggunaan tindakan diskriminatif seperti itu," katanya dalam sebuah pernyataan dilansir Bloomberg, Senin (11/2/2020).

Kantor Birmingham menolak mengomentari laporan bahwa Beijing sedang bersiap untuk memberlakukan larangan bijih tembaga dan konsentrat, serta gula minggu ini. China menyumbang 94 persen ekspor lobster batu Australia senilai US$527 juta pada 2018-2019.

Tom Cosentino, pejabat eksekutif di Southern Rocklobster Ltd mengatakan lobster hidup biasanya diterbangkan di atas es dan perlu dikonsumsi dalam 72 jam setelah meninggalkan Australia jika tidak masuk ke tangki penampungan di China.

Belum jelas apakah penundaan tersebut terkait secara khusus dengan meningkatnya pertikaian perdagangan antara kedua negara.

Perselisihan diplomatik meningkat antara China dan Australia menyusul dorongan Perdana Menteri Scott Morrison untuk penyelidikan independen tentang asal-usul pandemi Covid-19. Tudingan itu telah membuat serangkaian ekspor Australia ke mitra dagang terbesarnya tunduk pada apa yang digambarkan oleh pemerintah Morrison sebagai paksaan ekonomi.

Ekspor barley sebelumnya telah dipukul dengan tarif, anggur juga menjadi sasaran pemeriksaan antisubsidi dan anti-dumping, sementara Beijing telah mencegah wisatawan dan pelajarnya untuk mengunjungi Australia. Pemerintah Morrison bulan lalu mengatakan sedang mencari klarifikasi laporan bahwa China telah menangguhkan pembelian batu bara Australia.

Menurut dua orang yang mengetahui masalah ini, bulan lalu beberapa pabrik kapas China secara lisan diberitahu oleh pejabat pemerintah Beijing untuk berhenti membeli serat dari Australia.

South China Morning Post mengutip berbagai sumber perdagangan di China melaporkan kemungkinan larangan tembaga dan gula dari Negeri Kangguru.

Namun menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, Australia hanya mengekspor sekitar 1.066 ton gula ke China dalam sembilan bulan hingga September tahun ini, terhitung hanya sebagian kecil dari total 2,8 juta ton impor. Australia mengirimkan lebih dari 50 persen bijih tembaga dan konsentratnya ke China. Bagi China, Australia menyumbang kurang dari 5 persen dari total impor produknya.

South China Morning Post juga melaporkan semua ekspor kayu dari negara bagian Queensland Australia telah dilarang setelah petugas bea cukai menemukan kumbang kulit kayu dalam pengiriman.

Badan bea cukai juga menghentikan pengiriman barley dari eksportir biji-bijian Australia Emerald Grain setelah menemukan gulma seperti rumput.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china australia Lobster

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top