Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mudik dan Piknik, Jangan Lupa Protokol Kesehatan

Pada periode libur Indulfitri 22-25 Mei 2020, misalnya, kasus harian Covid-19 melambung 41 persen dari pekan sebelumnya.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  18:56 WIB
Wisatawan domestik menikmati pemandangan Gunung Batur dari kawasan wisata Kintamani, Bangli, Bali, Rabu (28/10/2020). Sejumlah objek wisata di Pulau Dewata mulai dikunjungi wisatawan domestik dari berbagai daerah yang memanfaatkan masa cuti bersama dan libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO - Fikri Yusuf
Wisatawan domestik menikmati pemandangan Gunung Batur dari kawasan wisata Kintamani, Bangli, Bali, Rabu (28/10/2020). Sejumlah objek wisata di Pulau Dewata mulai dikunjungi wisatawan domestik dari berbagai daerah yang memanfaatkan masa cuti bersama dan libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO - Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA – Libur telah tiba, mulai 28 Oktober sampai 1 November 2020 masyarakat Indonesia bisa rehat sejenak melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Walau santai, masyarakat tetap waspada, pasalnya klaster Covid-19 libur panjang mengintai.

Pemerintah sendiri mengimbau dari jauh-jauh hari agar masyarakat tidak ke luar rumah, namun tempat wisata tak ditutup. Juga, tak ada jaminan apakah penerapan protokol kesehatan dipantau dengan ketat.

Demi mendorong perekonomian, cuti bersama kali ini disambut diskon besar dan menggoda dari penyedia tiket, hotel, paket wisata. Setidaknya, diskon yang menggoda ini membuat orang terpancing ke luar rumah.

Berkaca padapengalaman sebelumnya, liburan memancing lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, lantaran masyarakat banyak yang tidak bisa menjaga jarak di tempat-tempat rekreasi.

Berdasarkan data Kemenkes, pada periode libur Indulfitri 22-25 Mei 2020, misalnya, kasus harian Covid-19 melambung 41 persen dari pekan sebelumnya. Kemudian, pada periode liburan 16-22 Agustus 2020, kasus Covid-19 kembali melonjak 21 persen, bahkan tembus 4.000 kasus per akhir September.

Padahal, pada periode tersebut, tingkat testing juga tercatat tak begitu banyak, berada di kisaran 17.000–25.000 testing per hari, dan tingkat positivity rate melambung ke angka 14,5 persen.

Momentum liburan memicu penularan Covid-19 lantaran mobilitas manusia lebih tinggi, hal ini menyebabkan kerumunan. Padahal, di tempat-tempat wisata kemungkinan ada orang terinfeksi Virus Corona tanpa gegala (OTG).

Seperti diketahui, 80 persen lebih orang positif Covid-19 tanpa gejala. Selain itu, Satgas Penanganan Covid-19 juga menyebut bahwa tak semua tempat dibersihkan secara berkala untuk menghindari penularan Covid-19 dari droplets atau dari permukaan.

Kendaraan memadati ruas Tol Jagorawi KM 6 di Jakarta, Kamis (29/10/2020). PT Jasa Marga (Persero) Tbk. mencatat sebanyak 336.929 kendaraan telah meninggalkan wilayah DKI Jakarta selama dua hari pada 27-28 Oktober 2020 dalam periode libur panjang Maulid Nabi dan cuti bersama atau meningkat 40,5 persen dibanding biasanya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Tidak Rutin Didisinfeksi

Ketua Bidang Informatika dan Data Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah menyebut, bahwa berdasarkan pantauan Satgas Covid-19 melalui aplikasi Monitoring Perubahan Perilaku, di tempat-tempat rekreasi yang kerap jadi tujuan saat liburan seperti restoran dan tempat wisata, sebanyak 40 persen tidak rutin didisinfeksi.

“Ini harus jadi pengingat bagi yang mau pergi ke tempat wisata, karena tempat-tempat ini belum tentu dibersihkan secara rutin. Artinya, kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan dan memastikan diri kita selalu bersih,” kata Dewi dalam konferensi pers, Kamis (29/10/2020).

Selain tempat rekreasi, pengawas suhu tubuh juga tidak ditemukan di 42 persen tempat umum seperti perkantoran, mal, tempat ibadah, restoran, dan tempat umum lainnya. Kemudian 41,6 persen tempat juga tidak memiliki pengawas khusus protokol kesehatan.

Secara umum, dilihat dari kepatuhan institusi, dari 34.000 intitusi yang sudah diinspeksi di 114.000 titik di 468 kabupaten/kota dan 34 provinsi, yang tidak patuh ada di 48 kabupaten/kota, yang kurang patuh ada di 36 kabupaten/kota, dan yang patuh ada di 16 kabupaten/kota.

Lantaran tak ada sanksi berat, umumnya para petugas dari Satgas yang mengawasi kepatuhan protokol kesehatan di lapangan melakukan teguran. Sampai 29 Oktober 2020 tercatat sudah 13 juta orang yang ditegur.

“Dari perkembangan hariannya teguran paling banyak dilakukan itu di pasar, kemudian di jalanan umum, kantor, perumahan, dan tempat wisata,” imbuhnya.

Belum lagi, kesadaran untuk menjaga jarak masyarakat Indonesia paling rendah dibandingkan dengan kepatuhan protokol kesehatan lainnya, yakni memakai masker dan mencuci tangan.

Pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) akhir September 2020, tercatat bahwa responden yang mengaku selalu menghindari kerumunan hanya 76,69 persen. Sementara itu, yang selalu menjaga jarak hanya 73,54 persen.

Untuk yang patuh pakai masker sudah cukup tinggi, sebanyak 91,98 persen, yang rajin mencuci tangan juga tak terlalu tinggi hanya 75,38 persen, dan yang menggunakan hand sanitizer sebanyak 77,71 persen.

Wisatawan menikmati suasana Pantai Lagoon, Ancol, Jakarta, Kamis (29/10/2020). Libur Nasional dan Cuti bersama dimanfaatkan warga Jakarta untuk bertamasya ke Ancol dan hingga Kamis (29/10) pukul 14.00 WIB pengunjung Ancol mencapai 23.000 orang. ANTARA FOTO/ Reno Esnir

Tingkat Kepatuhan Rendah

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny B Harmadi, menyebut orang-orang yang tidak patuh ini karena tak ada sanksi berat kepada para pelanggar.

Tak hanya di Indonesia, di negara-negara maju pun tingkat kepatuhan rendah atau menurun karena memang tak ada hukuman bagi pelanggar.

Sayangnya, hingga saat ini, pemerintah tetap bertahan dengan sanksi teguran, atau setegas-tegasnya sanksi administratif berupa denda atau melakukan kerja social. Sanksi-sanksi itu tidak membuat para pelanggar jera.

Sementara itu, ketidakpatuhan masyarakat pada protokol kesehatan bukan semata-mata tidak patuh atau lupa, tapi nyatanya masih banyak orang yang tidak percaya ada Covid-19.

Data BPS menyebut masih ada 17 persen orang Indonesia tak percaya dan yakin tidak akan terserang Covid-19, jumlah itu setara dengan sekitar 49,5 juta penduduk.

Mereka seolah tutup mata dengan 45 juta orang terinfeksi sedunia, 1,1 juta di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, berdasarkan data terakhir lebih dari 400.000 orang Indonesia positif Covid-19 dan 13.612 di antaranya meninggal dunia.

Satgas Covid-19 mengingatkan, agar terhindar dari infeksi Virus Corona, masyarakat harus patuh sepenuhnya baik secara individual dan secara kumulatif pada protokol kesehatan.

Pasalnya, kedisiplinan menerapkan protocol kesehatan bisa disebut bisa menurunkan risiko penularan Covid-19 bahkan sampai 99,99 persen.

“Ternyata 3M [memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak] sangat ampuh untuk menurunkan penularan Covid-19,” kata Ketua Bidang Informasi dan Data Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah.

Dia menyebut, rajin cuci tangan pakai sabun dan air mengalir bisa menurunkan risiko 35 persen. Kemudian, memakai masker kain 3 lapis bisa menurunkan risiko sampai 45 persen. Sementara itu, memakai masker medis bisa menurunkan risiko penularan sampai 70 persen.

“Selanjutnya, kalau dikombinasikan dengan menjaga jarak bisa menurunkan risiko sampai 85 persen. Kalau semua dilakukan bersama dan secara kolektif dapat mengurangi risiko penularan sampai 99,99 persen,” kata Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bagwa virus SARS- CoV-2 sangat cepat menyebar dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, masyarakat harus patuh dan disiplin protokol kesehatan, jika ingin kembali beraktivitas seperti biasa.

“Sebelum ke luar rumah, juga bisa dilihat kondisi di lapangan, bagaimana kedisiplinan masyarakat, apakah ada potensi kerumunan, dan bagaimana kepatuhan institusi/lembaga dalam menjalankan 3M,” tegasnya.

Langkah ini juga perlu dilaksanakan sampai ada vaksin dan sampai setidaknya 70 persen orang Indonesia divaksinasi. Hal ini tentunya tak akan terlaksana dalam waktu dekat.

Wisatawan mengunjungi Masjid Menara Kudus, di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2020). Masjid bersejarah peninggalan Sunan Kudus sekaligus menjadi tempat wisata ziarah makam Sunan Kudus yang terletak di sisi barat kompleks masjid itu menjadi tujuan warga dari sejumlah kota di Indonesia untuk mengisi liburan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Vaksin Bukan Satu-Satunya Solusi

Beberapa kandidat vaksin yang disebut bakal masuk Indonesia, seperti dari Sinovac, Sinopharm, dan Cansino saja masih harus menjalani berbagai macam proses panjang, uji klinis, dan juga sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara vaksin yang dibuat secara mandiri oleh Indonesia, Vaksin Merah Putih, diperkirakan baru bisa mulai produksi akhir tahun depan.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono sebelumnya juga menegaskan bahwa vaksin bukan jadi satu-satunya solusi nantinya.

“Karena kalau pun ketemu masih ada proses produksi, distribusi, masih panjang. Bayangkan jumlah penduduk Indonesia saja berapa, jadi jangan andalkan vaksin gunakan yang ada yaitu masker,” kata Pandu.

Cara mengendalikan virus yang paling ampuh adalah dengan pakai masker dan kombinasikan dengan menjaga kebersihan,  rajin mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak, menghindari kerumunan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Liburan Virus Corona Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top