Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris Selidiki 14 Perusahaan dan 6 Orang Terkait Skandal Pajak Cum-Ex

Transaksi Cum-Ex adalah transaksi untuk mengambil keuntungan dari metode pajak dividen, yang memungkinkan pengembalian dana melalui kombinasi penjualan singkat dan transaksi lainnya.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  16:11 WIB
Bayangan karyawan tercermin dalam layar kaca yang menampilkan logo London Stock Exchange Group Plc di kantor mereka di London. - Simon Dawson / Bloomberg
Bayangan karyawan tercermin dalam layar kaca yang menampilkan logo London Stock Exchange Group Plc di kantor mereka di London. - Simon Dawson / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Regulator keuangan Inggris sedang menyelidiki 14 perusahaan dan enam individu atas peran mereka dalam skandal pajak yang dikenal sebagai Cum-Ex.

Dikutip dari sumber anonim Bloomberg, Financial Conduct Authority (FCA) sedang mengejar kasus terhadap perusahaan yang mengoperasikan skema pengupasan dividen di Denmark, Jerman, Prancis dan Italia.

Regulator telah bungkam terkait dengan penelusuran kasus Cum-Ex ini sejak Februari lalu.

Kasus ini terkait dengan praktik kontroversial, di mana saham diperdagangkan dengan cepat untuk mendapatkan pengembalian pajak ganda atas pembayaran dividen. Praktik ini telah melahirkan penyelidikan di seluruh Eropa.

Jaksa Denmark dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan upaya untuk menginterogasi trader di London terkait dengan Cum-Ex.

Kepala Penegakan hukum di FCA Mark Steward mengatakan pada bulan Februari bahwa regulator telah bekerja dengan otoritas Eropa untuk menyelidiki apa yang disebutnya perdagangan saham substansial dan yang dicurigai melanggar hukum di bursa London.

Dia menegaskan bahwa penyelidikan sudah sangat dekat dengan kesimpulan dan keputusan lanjutan, tetapi pandemi virus Corona telah membuat semua jadwal tersebut mundur. Sayangnya, juru bicara FCA menolak berkomentar.

Investigasi FCA masih berada pada tahap awal karena pengacara untuk trader yang terjebak dalam penyelidikan negara lain mengatakan bahwa klien mereka belum dihubungi oleh regulator Inggris.

Pejabat Denmark telah menghubungi beberapa trader saham yang sebelumnya bekerja di bank-bank besar London, menurut sumber Bloomberg.

Saat ini, orang-orang tersebut sedang dicari sebagai saksi dan belum ditetapkan sebagai tersangka.

Langkah tersebut menandai peningkatan besar dari penyelidikan oleh regulator Denmark, yang sebelumnya berfokus pada Sanjay Shah, pendiri Solo Capital Partners LLP.

Jaksa telah menyita rumah besar Shah di London dan aset lainnya atas tuduhan bahwa dia secara ilegal mengklaim pengembalian pajak pencatatan ganda. Namun, Shah membantah melakukan tindakan tersebut. Jaksa Denmark menolak berkomentar tentang investigasi yang tertunda itu.

Transaksi Cum-Ex adalah transaksi untuk mengambil keuntungan dari metode pajak dividen, yang memungkinkan pengembalian dana melalui kombinasi penjualan singkat dan transaksi lainnya.

Investigasi Denmark adalah bagian dari upaya negara untuk mendapatkan kembali US$2 miliar yang katanya seharusnya tidak pernah didistribusikan kepada investor luar negeri yang membuat klaim pengembalian pajak dividen.

Sementara itu, Jerman telah mengamankan dua orang dan menangkap beberapa mantan bankir sebagai bagian dari penyelidikannya kasus transaksi Cum-Ex ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Pajak inggris

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top