Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cegah Karhutla, BNPB Perkenalkan Pemanfaatan Lahan Gambut Nirbakar

Pemanfaatan lahan gambut dengan cara membakar menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk itu Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memperkenalkan konsep pemanfaatan lahan gambut nirbakar atau tanpa bakar
Sutarno
Sutarno - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  12:30 WIB
Lahan gambut. - Antara
Lahan gambut. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemanfaatan lahan gambut dengan cara membakar menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk itu Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memperkenalkan konsep pemanfaatan lahan gambut nirbakar atau tanpa bakar

BNPB mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit untuk ditangani dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di hutan tanah kering.

Hal ini disebabkan oleh penyebaran api yang tidak hanya terjadi pada vegetasi di atas gambut tapi juga terjadi di dalam lapisan tanah gambut yang sulit diketahui penyebarannya. Usaha pemadaman api di lahan gambut, terutama jika apinya telah menembus lapisan gambut yang sangat dalam, hanya dapat dilakukan secara efektif oleh alam yaitu hujan lebat.

Dalam rangka mengurangi terjadinya karhutla Direktorat Mitigasi Bencana BNPB, mengedukasi pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar lahan, tetapi dengan melakuakan inovasi pengelolaan lahan gambut yang dikenal sebagai Mitigasi Partisipatif Karhutla melalui pemanfaatan lahan gambut nirbakar yang mana pada kesempatan ini dilakukan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.

Radito Pramono Susilo, Kepala Sub Direktorat Mitigasi Struktural BNPB yang membacakan sambutan Direktur Mitigasi Bencana BNPB, menjelaskan bahwa sebagai bagian dari pemulihan dan inovasi ekosistem gambut, maka kami dari BNPB bermaksud melaksanakan program Mitigasi Partisipatif Karhutla pemanfaatan lahan gambut nirbakar.

“Pelaksanaaan Mitigasi Partisipatif Karhutla untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan gambut tanpa harus dibakar bertujuan untuk perlindungan dan penyelamatan ekosistem gambut. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan praktik atas kondisi gambut, daur hidrologis, pemilihan jenis varietas dan berbagai pengetahuan lokal lainnya yang berhubungan dengan sistem kehidupan masyarakat di lahan gambut,” ucap Radito saat membuka kegiatan Mitigasi Partisipatif Karhutla di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Selasa (20/10), seperti dilaporkan laman bnpb.go.id.

Ia menambahkan, penanganan Karhutla dilakukan salah satunya dengan merestorasi lahan gambut, selanjutnya perlu adanya dukungan banyak pihak, dalam hal ini mengedepankan konsep Pentaheliks dikarenakan target area restorasi gambut di Indonesia sebesar 2,6 juta hektare yang menunjukkan lahan tersebut sangat luas.

“Dalam langkah penanganan Karhutla, perlu adanya restorasi lahan gambut mengacu pada konsep pentaheliks, pada kesempatan kali ini kami didukung oleh Badan Restorasi Gambut (BRG), Pemerintah Daerah yang diwakili oleh BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten, Dinas Pertanian, Kepala Desa, media massa, UMKM, para fasilitator BRG dan tentu saja para petani yang tergabung dalam kelompok tani. Dengan mengusung konsep pentaheliks, diharapkan keberhasilan program ini dapat berjalan dengan baik, khususnya untuk memperkuat edukasi kebencanaan pemanfaatan lahan gambut,” tambah Radito.

Pada kesempatan yang sama Mustofa selaku Sekretaris BPBD Kab. Tanjabtim berharap para peserta dapat meyebarluaskan pengetahuan yang didapat dari mengikuti kegiatan ini kepada lingkungan sekitarnya.

“Kegiatan ini berisikan pengetahuan dan informasi bagaimana cara mengatasi Karhutla, paling tidak bisa mewakili dan menyampaikan kepada rekan, saudara, kerabat dan tetangga dari apa yang didapat dari kegiatan ini,” kata Mustofa.

Perlu diketahui berdasarkan data BPBD Kabupaten Tanjabtim dari sebelas kecamatan yang berada di Kab. Tanjabtim hanya satu yang tidak berpotensi karhutla yaitu kecamatan Kuala Jambi, sedangkan sepuluh kecamatan lainnya merupakan daerah berpotensi terjadi karhutla adalah kecamatan Muara Sabak Barat, kecamatan Muara Sabak Timur, kecamatan Dendang, kecamatan Rantau Rasau, kecamatan Berbak, kecamatan Mendahara Ulu, kecamatan Geragai, kecamatan Nipah Panjang, kecamatan Sadu dan kecamatan Mendahara.

Sebagai informasi, kegiatan ini akan dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada tanggal 20-22 Oktober 2020 bertempat di Kelompok Tani Mekar Harum Desa Lagan Ulu dengan jumlah peserta sebanyak dua puluh dua orang yang berasal dari BPBD Provinsi Jambi, BPBD Kab. Tanjabtim, Dinas Pertanian Kab. Tanjabtim, Kelompok tani, dan media massa. Pada hari pertama peserta mendapatkan teori-teori yang disajikan oleh perwakilan BRG, BPBD dan Dinas Pertanian, hari kedua dan ketiga akan mempraktikan teori langsung di lapangan.

Meskipun pandemi Covid-19 masih berlangsung, kegiatan ini berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah menyebarnya virus SARS-CoV-2, yaitu menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan pakai sabun atau cairan antiseptik.

Program Mitigasi Partisipatif Karhutla dengan pemanfaatan lahan gambut tanpa bakar ini sudah dilakukan di dua lokasi, yaitu Kabupaten Kubu raya Kalimantan Barat dan Kabupaten Balangangan Kalimantan Selatan.

Setelah itu, saat ini sedang berlangsung di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi dan Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah, serta rencananya akan dilakukan di dua lokasi berikutnya yaitu Kab. Pelalawan Riau dan Kab. Musi Banyuasin Sumatera Selatan.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bnpb gambut Karhutla Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top