Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Geliat Perdagangan Dunia Dorong Ekspor Jepang

Nilai ekspor Jepang turun 4,9 persen dari tahun sebelumnya pada September, menyempit dari penurunan 14,8 persen pada Agustus.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  10:54 WIB
Manufaktur Jepang. - .Reuters
Manufaktur Jepang. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Meningkatnya arus perdagangan global mampu menahan penurunan ekspor Jepang menuju laju paling lambat pada bulan lalu dibandingkan delapan bulan sebelumnya.

Kementerian Keuangan menjelaskan, nilai ekspor Jepang turun 4,9 persen dari tahun sebelumnya pada September, menyempit dari penurunan 14,8 persen pada Agustus. Angka yang membaik didukung oleh kenaikan ekspor terbesar ke China dalam lebih dari dua setengah tahun, memberikan indikasi bahwa titik terendah perdagangan telah berlalu.

Peralatan pembuat chip mendorong peningkatan ekspor ke China, sementara lonjakan pengiriman mobil ke Amerika Serikat memicu kenaikan ekspor pertama dalam lebih dari setahun. Namun, ekonom telah memproyeksikan penurunan ekspor keseluruhan yang lebih kecil sebesar 2,4 persen.

"China adalah faktor pendorong terbesar untuk ekspor Jepang saat ini karena perekonomian di sana mengalami pemulihan yang cepat. Namun saya tidak berpikir China dapat terus meningkat pada kecepatan ini mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia karena pandemi terus membebani aktivitas," kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, dilansir Bloomberg, Senin (19/10/2020).

Sementara itu, Perdana Menteri Yoshihide Suga menghadapi tantangan untuk mencoba menghidupkan kembali ekonomi setelah menyusut pada kuartal kedua tahun ini. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada ekspor, pendorong utama pertumbuhan Jepang.

Menurut Minami, pertumbuhan kuartal ketiga tidak akan menutupi kedalaman penurunan di kuartal kedua, suatu hasil yang dapat menekan Suga untuk menyusun paket stimulus lain. Minami menambahkan bahwa ketergantungan Jepang pada

perdagangan global membuatnya rentan, terutama dengan melonjaknya kembali infeksi virus di beberapa mitra dagang utama seperti Eropa dan AS.

"Pandemi ini akan membuat perusahaan Jepang berhati-hati dalam perekrutan, pertumbuhan upah, dan investasi bisnis," tambah Minami.

Yuki Masujima, ekonom Bloomberg mengatakan ekspor mungkin naik di atas level tahun sebelumnya menjelang akhir tahun 2020 tetapi pemulihan yang masih terbatas dalam pengiriman baja dan barang-barang lain dari industri berat berarti perlu waktu bagi ekspor untuk mempertahankan level itu secara konsisten.

"Ketegangan antara China dan AS masih menimbulkan risiko penurunan," kata Masujima.

Ekspor ke China naik 14 persen, dengan pengapalan perangkat pembuat chip melonjak 47 persen. Secara keseluruhan pengiriman ke Amerika Serikat naik 0,7 persen dari tahun sebelumnya, peningkatan pertama dalam 14 bulan, dibantu oleh lonjakan ekspor mobil sebesar 22 persen.

Adapun pengiriman ke Uni Eropa terus turun menjadi 10,6 persen, meski penurunan tersebut merupakan yang terkecil sejak Februari. Impor keseluruhan turun 17,2 persen membuat neraca perdagangan surplus 675 miliar yen (US$6,4 miliar).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor ekonomi jepang
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top