Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Survei UNCTAD: Pandemi Mengubah Tren Belanja Online

Survei hasil kerja sama dengan Netcomm Suisse eCommerce Association, Pusat Informasi Jaringan Brasil (NIC.br) dan Inveon ini juga menunjukkan bahwa pembelian online telah meningkat 6 hingga 10 poin persentase di sebagian besar kategori produk.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  13:51 WIB
Ilustrasi belanja online - Antara
Ilustrasi belanja online - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi mempercepat pergeseran menuju dunia yang lebih digital dan memicu perubahan perilaku belanja online. Peluang ini perlu dimanfaatkan di saat dunia bergerak menuju pemulihan dari pandemi.

Hal itu merupakan simpulan survei terhadap sekitar 3.700 konsumen di sembilan negara maju dan berkembang oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Adapun negara-negara yang disurvei yakni Brasil, China, Jerman, Italia, Korea Selatan, Federasi Rusia, Afrika Selatan, Swiss dan Turki.

Setelah pandemi, lebih dari setengah responden survei lebih sering berbelanja online dan lebih mengandalkan internet untuk berita, informasi terkait kesehatan, dan hiburan. Survei menunjukkan, Konsumen di negara berkembang telah melakukan peralihan terbesar ke belanja online.

"Pandemi Covid-19 telah mempercepat pergeseran menuju dunia yang lebih digital. Perubahan yang kita lakukan sekarang akan memiliki efek yang langgeng seiring dengan pemulihan ekonomi dunia," kata Sekretaris Jenderal UNCTAD Mukhisa Kituyi dalam keterangannya dilansir, Selasa (13/10/2020).

Dia mengatakan percepatan belanja online secara global menggarisbawahi pentingnya memastikan semua negara dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh digitalisasi saat dunia bergerak menuju pemulihan.

Survei hasil kerja sama dengan Netcomm Suisse eCommerce Association, Pusat Informasi Jaringan Brasil (NIC.br) dan Inveon ini juga menunjukkan bahwa pembelian online telah meningkat 6 hingga 10 poin persentase di sebagian besar kategori produk.

Peraih terbesar adalah perangkat elektronik, alat berkebun, farmasi, pendidikan, produk furnitur, rumah tangga, dan kosmetik serta perawatan peribadi.

Namun, pengeluaran bulanan online rata-rata per orang telah menurun tajam. Konsumen di negara berkembang dan maju telah menunda pengeluaran lebih besar. Mereka yang berada di negara berkembang lebih fokus pada produk penting.

Sektor pariwisata dan perjalanan mengalami penurunan terkuat, dengan pengeluaran rata-rata per pembelanja online turun sebesar 75 persen.

"Selama pandemi, kebiasaan konsumsi online di Brasil telah berubah secara signifikan, dengan proporsi lebih besar dari pengguna internet yang membeli produk penting, seperti makanan dan minuman, kosmetik dan obat-obatan," kata Alexandre Barbosa, manajer Pusat Studi Pembangunan Regional Masyarakat Informasi (Cetic.br) di Pusat Informasi Jaringan Brasil (NIC.br).

Peningkatan belanja online selama pandemi berbeda antar negara. Kenaikan terkuat tercatat di China dan Turki dan terlemah di Swiss dan Jerman, di mana lebih banyak orang sudah terlibat dalam e-commerce.

Wanita dan orang-orang dengan pendidikan tinggi meningkatkan belanja online daripada yang lain. Orang berusia 25 hingga 44 tahun melaporkan peningkatan yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lebih muda. Dalam kasus Brasil, peningkatan tertinggi terjadi pada populasi dan wanita paling rentan.

Selain itu, pedagang kecil di China paling siap untuk menjual produk mereka secara online dan pedagang di Afrika Selatan paling tidak siap.

"Perusahaan yang menempatkan e-commerce sebagai inti dari strategi bisnis mereka bersiap untuk era pascapandemi. Ada peluang besar bagi industri yang masih lebih terbiasa dengan belanja fisik, seperti barang konsumen dan farmasi yang bergerak cepat," kata Yomi Kastro, pendiri dan CEO Inveon.

Carlo Terreni, Presiden, Asosiasi e-commerce NetComm Suisse mengatakan pertumbuhan e-commerce pascapandemi akan menganggu kinerja ritel nasional dan internasional.

Itulah mengapa pembuat kebijakan harus mengadopsi langkah-langkah konkret untuk memfasilitasi adopsi e-commerce di antara usaha kecil dan menengah dan menarik investor internasional.”

Selain itu, masih menurut survei yang sama, platform komunikasi yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp, Instagram dan Facebook Messenger, semuanya dimiliki oleh Facebook. Namun, Zoom dan Microsoft Teams mendapatkan keuntungan maksimal dari peningkatan penggunaan aplikasi panggilan video di tempat kerja.

Di China, platform komunikasi teratas adalah WeChat, DingTalk, dan Tencent Conference, survei tersebut menunjukkan.

Perubahan dalam aktivitas online kemungkinan akan bertahan lebih lama dari pandemi. Sebagian besar responden, terutama yang berada di China dan Turki, mengatakan bahwa mereka akan terus berbelanja online dan berfokus pada produk penting di masa mendatang. Mereka juga memilih lebih banyak perjalanan lokal, yang menunjukkan dampak panjang pada pariwisata internasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja online e-commerce Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top