Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Polisi Lakukan Kekerasan terhadap Massa Demo Omnibus Law, Ini Kecaman Politisi hingga Netizen

Kekerasan yang dilakukan polisi tidak hanya terjadi di kawasan Jakarta. Aksi aparat yang melakukan kekerasan terhadap massa demo Tolak Omnibus Law juga terjadi beberapa daerah seperti Bekasi, Lampung, Sukabumi, Palu, dan daerah lain.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 09 Oktober 2020  |  12:14 WIB
Massa membubarkan diri saat polisi menembakan gas air mata saat unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang Undang (UU) Cipta Kerja di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (8/10/2020). Aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh hingga menyebabkan satu truk Satpol PP dibakar massa. ANTARA FOTO - Mohammad Ayudha
Massa membubarkan diri saat polisi menembakan gas air mata saat unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang Undang (UU) Cipta Kerja di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (8/10/2020). Aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh hingga menyebabkan satu truk Satpol PP dibakar massa. ANTARA FOTO - Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah video beredar di media sosial yang memperlihatkan kekerasan polisi terhadap massa demo Omnibus Law pada Kamis (8/10/2020).

Beberapa mahasiswa dilaporkan mengalami luka hingga harus dibawakan ke rumah sakit. Kekerasan yang dilakukan polisi tidak hanya terjadi di kawasan Jakarta.

Aksi aparat yang melakukan kekerasan terhadap massa demo Tolak Omnibus Law juga terjadi beberapa daerah seperti Bekasi, Lampung, Sukabumi, Palu, dan daerah lain.

Bengisnya sikap aparat menjadi perhatian politisi Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. Dia meminta agar aparat polisi tak main pukul sehingga mengakibatkan peserta aksi massa meninggal dunia saat penolakan UU KPK awal tahun lalu.

“Bagi aparat kepolisian yang didapati memukul, menendang dan melakukan kekerasan lainnya terhadap peserta aksi dan terekam dalam video, saya pastikan akan bawa hal ini secara serius kepada Kapolri dan meminta penjelasannya. Jangan sampai ada korban tewas seperti aksi lalu!!!,” tulis Hinca Pandjaitan melalui akun Twitter miliknya @HincaPandjaitan, seperti dikutip Bisnis, Jum’at (9/10/2020).

Selain mendapatkan kekerasan fisik, beberapa mahasiswa yang saat sedang melakukan aksi demonstrasi penolakan Omnibus Law dilaporkan hilang kontak.

“Hati-hati yang pada demo. Jangan lepas dari rombongan, selalu perhatikan sekeliling. Kalau ada yang gerak-geriknya mencurigakan, menjauh aja. Mahasiswa yang pada hilang kurang lebih kejadiannya kayak gitu,” tulis akun Twitter @faizulamr, seperti yang dikutip Bisnis, Jum’at (9/10/2020).

Selain massa demonstrasi yang mendapatkan tindak kekerasan fisik, jurnalis media pun mendapatkan intimidasi dan penghalangan peliputan dari oknum polisi.

Begitu pula dengan jurnalis dari pers mahasiswa yang menghilang saat meliput penolakan Omnibus Law.

Salah satunya dari jurnalis pers Universitas Pasundan Bandung yang dikabarkan menghilang saat melakukan peliputan demonstrasi Omnibus Law di Gedung DPRD Jawa Barat.

“Pukul 5 sore siaran langsung tiba-tiba terhenti, juga salah salah satu penonton men-dm bahwa siaran langsung terhenti secara paksa,” tulis akun Instagram @lpmjumpa, seperti yang dikutip Bisnis, Jum’at (9/10/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polisi Omnibus Law cipta kerja
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top